John dan Sam

Kala itu Sam baru beberapa bulan bekerja, muda dan penuh semangat.

John duduk termenung, kursinya miring ke tiang pondok. Di tangannya ada sebuah buku lama yang baru dibacanya lagi. Ia memang suka membaca buku yang disukainya berulang berulang-ulang. Entah sudah berapa kali ia membaca buku itu. Buku itu juga yang disukai Sam. Sam yang membelikannya sebagai hadiah ulang tahunnya yang ketiga puluh.

Orang-orang mengenal John Cotton seorang pria tiga puluh dua tahun berwajah tampan dengan kulit yang kecoklatan. Tidak ada perempuan yang tidak menyukainya pada pandangan pertama, kecerdasannya membuat siapa saja menyenanginya. Tapi kali ini ia rapuh, serapuh sayap kupu-kupu. Jika Sam mengatakan akan menikah di bulan Maret, maka jatuhlah seluruh air matanya seperti seorang perempuan. Ia pun masih ingat kata-kata terakhir Sam yang menghancurkan hatinya.

Aku mengerti perasaanmu seperti juga perasaanku, tapi aku memilih kehidupan normal bersama orang yang benar-benar kucintai. Tentu kita masih berteman, John. Aku akan pergi ke Edna bersama adik perempuanku.

Di bulan September John terbang menuju Edna dengan perasaan tak menentu. Tentu saja setelah Sam mengijinkannya dan John menyadari kesalahannya. Dan untuk menebusnya, John membawakan Sam hadiah berupa buku pertemanan edisi lama yang disimpan di dalam tas.

Dalam perjalanan dengan taksi, John berkisah panjang lebar menceritakan tentang pertemuan pertamanya dengan Sam di lantai dua kantor mereka. Sebenarnya ada tiga Sam di kantor itu, Samantha Lee sang auditor, Samara Maxwell sang sekretaris, sementara John mencintai Sam yang lain. Kala itu Sam baru beberapa bulan bekerja, muda dan penuh semangat. Awalnya ia menyukai Sam karena sama-sama menyukai buku. Mereka juga menyukai penulis yang sama. Sehingga ia menyimpulkan bahwa ia menyukai Sam karena banyak kesamaan. Supir taksi sesekali menanggapi dengan berkata, “Itu bagus buatmu.” … “Kurasa aku juga mulai menyukai Sam.” … “Kau pria yang penyabar.” … dan “Sepertinya kita sudah sampai.”

John turun di depan toko grosir, memberikannya tiga puluh dolar dan meminta sang supir menyimpan kembaliannya.

Hari itu sangat panas, angin membawa daun-daun dan debu ke langit. Pohon-pohon kering berbaris di sepanjang jalan. Rumah Sam berpagar kayu warna putih dengan halaman yang luas. John melihat Sam tersayang sedang duduk membaca buku di teras. Ia datang menghampirinya sambil tersenyum, sementara Sam menyambutnya dengan penuh hormat. Ia baru akan menanyakan kabar ketika pintu rumah terbuka. Seorang perempuan cantik melangkah keluar menghampiri Sam. John menebak perempuan itu pasti Lily, adik perempuan Sam. Sam memang cukup sering bercerita tentang Lily. John bahkan menyukai Lily tanpa pernah melihat wajahnya. Tapi ia sudah terlanjur menyukai Sam.

“Ini Karen, istriku,” Sam berkata, melingkarkan tangannya di pinggang perempuan itu.

“Kau pasti John,” sapa Karen.

“Apa kabar?” jawab John. Lalu ia memperkenalkan dirinya sebagai John Cotton, kawan lama suaminya. Setelah bercerita sedikit tentang perjalanannya, ia mengeluarkan buku pertemanan itu dan memberikannya pada Karen sebagai tanda pertemanan barunya.

“Sam menyukai ini.”

Karen membuka bungkusnya dan mendapatkan sampul indah dengan sebuah kartu ucapan di atasnya. Sambil mengelus perutnya yang sedang mengandung ia membacakannya untuk Sam.

Untuk Samuel Simmons.

Persahabatan selamanya.

John J. Cotton.

“Sangat menyentuh,” ucap Karen mengagumi persahabatan mereka.

* *

Default image
Ali
Pria tampan nan ganteng ini (masih) tinggal di Bekasi

Komentar