John dan Sam

John duduk termenung, kursinya dimiringkan ke tiang pondok, di tangannya ada sebuah buku lama yang baru dibacanya lagi. Ia memang suka membaca buku yang disukainya berulang-ulang. Entah sudah berapa kali ia membaca buku itu. Buku itu juga yang disukai Sam.

Orang-orang mengenal John Cotton sebagai seorang pria berwajah tampan dengan kulit kecoklatan, bertubuh tegap dan senyum menawan. Tidak ada perempuan yang tidak menyukainya. Akan tetapi, siapa sangka, belakangan ini ia terlihat rapuh, serapuh sayap kupu-kupu. John masih ingat kata-kata terakhir Sam yang menghancurkan hatinya.

Aku mengerti perasaanmu, John, tapi aku memilih hidup normal bersama orang yang benar-benar kucintai. Tentu kita masih berteman. Aku akan pergi ke Edna bulan depan bersama adik perempuanku.

Di bulan Agustus John terbang menuju rumah Sam dengan perasaan tak menentu. Dalam perjalanan dengan taksi, John menceritakan kepada sopir taksi tentang pertemuan pertamanya dengan Sam di lantai dua kantor mereka. Ia bilang, ada tiga Sam di kantor itu: Samantha Lee sang auditor, Samantha Maxwell sang sekretaris, sementara John mencintai Sam yang lain.

Waktu itu Sam baru beberapa bulan bekerja, muda dan penuh semangat. Awalnya ia menyukai Sam karena sama-sama menyukai buku dan penggemar penulis yang sama, sehingga ia berpikir bahwa ia menyukai Sam karena banyak kesamaan. Sopir taksi, yang mendengarkannya dengan penuh perhatian, sesekali menanggapinya dengan berkata,

“Itu bagus buatmu.” … “Kurasa aku juga mulai menyukai Sam.” … “Kalau kau mau, aku bisa putarkan lagu-lagunya Samantha Sang.” … “Oh, kau pria yang penyabar.” … dan … “Sepertinya kita sudah sampai.”

Matahari bersinar terik, angin membawa daun-daun dan debu ke langit, pohon-pohon kering berbaris di sepanjang jalan. Rumah Sam berpagar putih dengan halaman yang luas. Dilihatnya Sam tersayang sedang duduk membaca buku di kursi teras.

“Apa kabar, Sam?” sapa John.

Sam melihat John dengan sedikit pangling. John terlihat lebih kurus dan berkumis. Sam menutup bukunya, dan keduanya duduk di anak tangga teratas.

“Bagaimana kabarmu, Sam?” tanya John yang masih terkesan dengan penampilan Sam yang masih sama seperti dulu.

Ditatap seperti itu membuat Sam berada dalam situasi canggung. Ia sudah menikah dan John tahu itu.

“Aku baik.”

Pintu rumah terbuka, seorang perempuan keluar dari dalamnya, kemudian duduk di samping Sam. Sam memperkenalkan perempuan itu kepada John.

“Ini Karen,” kata Sam. “Istriku.”

“Kau pasti John,” kata Karen, mengulurkan tangannya pada pria itu.

Aku biarkan Anda untuk berpikir sebentar. Mungkin untuk menjawab pertanyaan, kenapa tiba-tiba Sam memperkenalkan perempuan itu sebagai istrinya?

Kalau Anda cermati, ini hanyalah persoalan nama. Lebih tepatnya nama panggilan. Ada begitu banyak nama panggilan yang sama untuk laki-laki maupun perempuan. Misalnya Alex. Nama Alex bisa dipakai untuk kedua gender. Alex untuk Alexander, tentunya itu nama laki-laki, dan Alex untuk Alexandra, untuk nama perempuan. Begitu juga dengan Sam. Sam, nama panggilan untuk Samantha, atau Sam untuk Samuel.

“Apa kabar?” sahut John, menyambut tangannya.

“Sam pernah bercerita tentang Anda.”

“Benarkah Sam?”

Sam tersenyum.

“Sam juga pernah bercerita tentang Anda. Lumayan sering.” Ia kemudian mengeluarkan sesuatu dari tasnya, lalu diberikannya kepada Karen. “Sebetulnya ini untuk Sam. Tetapi kurasa Sam tidak keberatan. Ini, sebagai tanda pertemanan baru.”

Karen membuka bungkusnya dan mendapatkan sebuah buku bersampul indah dengan sebuah kartu ucapan di atasnya. Sambil mengelus perutnya yang membuncit, dia membacakannya untuk Sam.

Untuk Samuel Simmons.

Persahabatan selamanya.

John J. Cotton.

“Sangat menyentuh,” ucap Karen mengagumi persahabatan mereka.

*      *      *

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Don`t copy text!