Joging Pagi

Sudah seminggu hujan tidak turun pagi-pagi, tetapi ia masih enggan pergi ke lapangan. Ada buku yang harus selesai dibaca, begitu alasannya untuk membenarkannya supaya berlama-lama di ranjang. Sungguh, alasan yang bagus.
Cahaya matahari jatuh di ujung ranjang, menyentuh tubuhnya. Ia menurunkan bukunya, menatap langit-langit sebentar, melompat turun, melakukan sedikit peregangan dan dua puluh kali push-up. Tidak ada lagi malas-malasan! Ia harus latihan lagi. Dimulai pagi ini. Tiga atau lima putaran, sekadar melemaskan tubuh. Lusanya ia baru akan latihan berat. Itu pun kalau ia tidak malas lagi.
Sebulan tidak ke lapangan membuatnya melewatkan banyak hal; trek joging dicat ulang, beberapa tambahan fasilitas gym dan banyak wajah baru. Ia melakukan pemanasan sebelum memulai joging. Ia biasa lari dua puluh kali keliling lapangan setiap paginya, setelah itu lanjut nge-gym. Tapi tidak ada nge-gym hari ini.
Baru dua ratus meter berlari, nafasnya mulai terengah-engah. Ia memelankan larinya, lalu jalan kaki. Uh, ini seperti mulai dari awal lagi, katanya dalam hati.
Dua tahun lalu berat badannya tembus seratus lima belas kilogram. Beruntung, ada teman yang membantunya memulai latihan.
“Dulu, aku juga seperti kau,” kata temannya. “Aku akan membuatmu jadi seperti ini,” ia menepuk-nepuk perut six pack-nya.
Hari pertama latihannya sangat berat. Pun hari-hari berikutnya selama dua bulan ke depan. Di bulan keempat temannya pergi. Pada saat itu berat badannya sudah menyentuh 98 kg dan ia sudah terbiasa latihan. Di tahun kedua, ia sudah menjadi orang yang berbeda. Dan sekarang, beratnya tidak jauh dari 73-75 kg, bahkan setelah sebulan tidak latihan berat.
Ia meneruskan jogingnya, melewati wajah-wajah baru, dan mengenali salah satunya. Ia hanya melihatnya sekilas, tetapi ia tidak perlu menengok dua kali untuk memastikannya.
Ia tidak berharap lelaki itu melihatnya. Kalaupun melihatnya, lelaki itu tidak akan mengenalinya. Ia sudah banyak berubah, dari seorang bocah kurus menjadi menjadi seorang pria bertubuh tegap dan berisi, dan wajah yang ditumbuhi berewok. Selain itu, ia tidak pernah sekalipun datang ke acara reuni atau pertemuan alumni lainnya dan hanya dua kali menginjakkan kakinya di sekolahnya sejak lulus SD. Itu pun ketika ia baru masuk SMP dan tidak ada lelaki itu di sana.
Lelaki itu mantan gurunya di SD. Ia memanggil lelaki itu tanpa ‘Pak’, tentunya tidak di depan orangnya, sebagai bentuk rasa bencinya kepada lelaki itu. Lelaki itu orang yang pernah membuat orang tuanya terpaksa meminjam uang demi membeli buku yang lebih mahal, membayar les yang tidak diperlukan, bayar foto kopi soal-soal ujian yang seharusnya gratis, membeli pantograf yang sama sekali tidak berguna, pena “Parker” sekali pakai, dan lainnya—yang kalau tidak dituruti akan dapat sanksi nantinya.
Ia mengakhiri jogingnya setelah satu putaran, duduk di atas bukit—agak jauh dari trek lari—mengamati lelaki itu yang sedang jalan kaki bersama seseorang yang seumurannya. Sudah tiga puluh tahun berlalu, tetapi lelaki itu sama sekali tidak berubah. Masih dengan kumis, rambut hitam tebal dan tubuh tegap. Yang berubah hanya perutnya yang membuncit.
Waktu berhasil membuat rasa benci itu memudar. Sekarang, mereka tinggal di tempat yang sama, dikelilingi tembok tinggi dan penjagaan ketat. Mungkin suatu saat ia akan berpapasan dengannya dan mereka akan saling sapa, tetapi ia tidak akan pernah mengobrol dengannya. Tidak ada yang perlu dibicarakan. Toh, ia dan lelaki itu sama-sama tahu alasan mereka bisa sampai di tempat itu—meski masing-masing datang dengan kasus berbeda. Ia ditahan karena menyuap pejabat. Lelaki itu ditahan karena menggelapkan dana BOS.
* * *




