Jerapah – Eps. 9

Bayu

Baru jam 06.15, tapi Bayu dan Somad – sang supir – sudah terjebak dalam macet yang lumayan panjang di lampu merah. Keduanya memang sudah terbiasa dengan keadaan ini. Apalagi hari ini hari Senin, segala bentuk kendaraan tumpah ruah di jalanan, bersama klakson yang saling bersahutan dan asap yang tak berhenti mengepul dari knalpot. Mobil-mobil disambut rombongan pengemis yang bergentayangan di sela-sela kemacetan, para pengamen yang menempel dari satu mobil ke mobil yang lain, dan para pedagang berteriak menawarkan rokok, gorengan atau air minum.

Somad beruntung dapat majikan yang punya mobil mewah, Camry hitam yang dikendarainya sangat disayanginya. Gajinya lumayan, jam kerjanya tidak terlalu panjang seperti halnya dua tahun lalu ketika ia masih mengemudikan truk box milik sebuah perusahaan ekspedisi, mengantar barang antar propinsi. Yang tidak kalah penting, majikannya tidak cerewet seperti bosnya dulu. Wajar saja, majikannya yang sekarang jarang berada di rumah. Majikannya yang laki sering pergi ke luar negeri mengurus bisnisnya, sedangkan majikannya yang perempuan seorang dosen di universitas di Singapura. Somad juga baru dua kali bertemu anak pertama dan anak kedua majikannya, yaitu pada saat libur lebaran. Hanya Bayu, satu-satunya anggota keluarga majikannya sering dilihatnya. Yang juga disayanginya selain Camry hitam itu.

Somad menyetel radio, terdengar siaran berita, penyiar radio membacakan berita kekeringan di berbagai daerah. Bulan itu memang sudah memasuki musim panas. Tadi malam ia melihat di TV orang-orang mengambil air di bukit-bukit yang jauh dengan berjalan kaki. Ia kemudian mengganti ke saluran yang lain dan berhenti di musik dangdut kesukaannya. Volume suaranya dikecilkan sedikit supaya tidak menganggu sang anak bungsu majikan yang sedang membaca Goosebumps. Ah, novel itu. Ia jadi suka membaca novel itu sejak Bayu meninggalkannya di mobil. Awalnya ia hanya iseng membacanya sambil menunggu Bayu pulang sekolah, hari-hari berikutnya ia menanti-nanti seri terbarunya. Setidaknya ia sudah membaca lima serinya.

Seorang bocah pengamen mendatangi Camry hitam itu, menyanyikan satu lagu yang tidak jelas, yang diiringi musik yang sama tidak jelasnya, yang hanya berupa bunyi-bunyian dari kecekran dari tutup botol. Somad cuek saja, jemarinya mengetuk-ngetuk stir mobil mengikuti irama dangdut. Bayu menurunkan bukunya lalu memperhatikan bocah pengamen. Usia bocah pengamen itu kira-kira delapan tahun, kepalanya botak, matanya besar dan sayu seperti baru bangun tidur, hidung peseknya didongakkan seakan ingin melihat isi dalam mobil. Tetapi kaca mobilnya gelap, bocah itu hanya bisa melihat bayangannya sendiri.

Bayu menepuk bahu Somad dan menitipkan uang dua puluh ribu untuk diberikan ke bocah pengamen. Somad menurunkan kaca jendela mobil, lalu memberikan uang tersebut kepada bocah pengamen sambil berkata, “Jangan buat beli rokok.” Bocah pengamen menyengir. Kemudian dilihatnya lampu lalu lintas menyala hijau, tapi Camry hitam itu hanya bisa bergerak maju beberapa meter karena lampu lalu lintas kembali menyala merah. Bayu melihat bocah pengamen tadi berpindah mengamen ke mobil lain di depannya, lalu pindah lagi ke mobil di depannya sampai sama sekali tidak kelihatan.

Mereka tiba di depan gerbang sekolah sepuluh menit sebelum jam tujuh, Bayu memberi Somad lima puluh ribu.

“Tidak usah dijemput,” kata Bayu. “Aku nanti pulang bareng teman.”

Bayu memang sering memberikannya uang, lebih sering dari majikannya sendiri. Pekan lalu Bayu bahkan memberikannya seratus ribu untuk uang tutup mulut karena bolos sekolah dan mengajaknya pergi ke Dufan. Hari itu pertama kalinya Somad pergi ke Dufan. Di tengah kesenangannya menaiki wahana, ia teringat kedua anaknya dan berharap suatu saat bisa mengajak mereka ke Dufan. Meski begitu, terkadang ia lebih mencemaskan anak majikannya. Ia sendiri kurang tahu sebetulnya apa yang dicemaskannya, padahal Bayu punya segalanya. Kecuali, mungkin kehadiran orang tuanya.

Di kelas yang membosankan, Bayu mendapat pelajaran sejarah yang membosankan dengan guru yang membosankan, lalu ia menulis kata bosan di buku tulisnya. Nilai bagus di semua mata pelajaran tidak membuatnya senang. Dalam pikirannya yang sederhana ia ingin membuat kekacauan di sekolah. Ia juga berharap ada serombongan zombi yang mengepung sekolahnya. Tentunya ia yang akan jadi pahlawannya. Sepertinya menyenangkan bisa menjadi orang yang tidak biasa. Ia seharusnya punya petualangannya sendiri alih-alih menghadiri kelas yang membosankan.

Hari itu Bayu tidak pulang bersama temannya, ia hanya ingin pulang naik bis. Ini pertama kalinya ia naik Kopaja sendirian. Ia pernah satu kali naik Kopaja bersama Somad ke Pasar Minggu, tapi itu sudah lama. Ia memberikan lima ribu rupiah saat sang kernet menagih ongkos. Sang kernet bilang pakai uang kecil saja. Ia tidak tahu yang dimaksud uang kecil, jadinya ia memberikan seribu rupiah, yang ternyata masih dapat uang kembalian.

Ada beberapa anak sekolah yang naik bis itu, kebanyakan murid-murid SMA, yang salah satunya duduk di sebelahnya. Murid SMA itu seorang perempuan berambut pendek, mengunyah permen karet, lalu menatap logo sekolahnya yang menempel di lengan bajunya. Semua orang tahu nama sekolah yang tertulis di logo itu sekolah mahal dan rasanya tidak mungkin naik Kopaja. Murid SMA itu terus memandanginya, tapi ia berusaha terlihat tenang. Ia lega ketika akhirnya murid SMA berdiri dan bersiap untuk turun dari bis.

Bis berhenti dan murid-murid SMA itu pun turun. Seorang bocah pengamen melompat naik ke atas bis lalu menyanyikan lagu Iwan Fals diiringi ukulelenya. Meski suaranya serak dan tidak kuat di nada tinggi, ia tampil dengan percaya diri. Usai bernyanyi bocah pengamen itu menyodorkan kantong ke tiap-tiap penumpang. Bayu memberikannya seribu rupiah. Bocah pengamen turun di halte bus di sebelum jembatan layang, Bayu terus memerhatikannya hingga ia menghilang dari pandangan.

Keesokannya, ia mencari bocah pengamen di halte yang sama, tapi ia tidak menemukannya. Begitu pun lusanya dan hari setelah itu. Ia baru melihat bocah pengamen itu lagi seminggu kemudian. Bocah pengamen itu, yang pernah kuperkenalkanmu sebagai Dodi, sedang menghitung uangnya di halte bis, memisahkan uang recehan dari lembaran seribuan dengan sesekali ia mengelap dahi dan hidungnya yang berkeringat. Jumlahnya lebih baik dari hari kemarin, lalu ia memasukkan uangnya ke dalam saku dan kemudian memesan es cendol.

“Aku yang bayar,” kata Bayu saat bocah pengamen mengeluarkan uangnya dari saku celana untuk membayar es cendolnya. Ia tidak tahu berapa harga es cendol, tapi dengan uang dua puluh ribu seharusnya ia dapat uang kembalian.

Bocah pengamen tidak terbiasa dengan kata ‘terima kasih’ kecuali cukup senang ia tidak perlu membayar es cendolnya.

“Boleh ikut ngamen?” tanya Bayu, tapi bocah pengamen tidak menjawab. Ia pun mengulangi pertanyaannya lagi, tapi bocah pengamen masih tidak menjawab. Ia melanjutkan, “Tidak sekarang sih. Besok kita ketemu lagi disini.” Kemudian ia memberikan uang sepuluh puluh ribu kepada bocah pengamen dari uang kembalian es cendol.

Perlu waktu bagi bocah pengamen untuk menyambut kebaikannya. Pikirnya, mungkin inilah saat yang tepat untuk mengucapkan terima kasih.

Lanjut>>

Komentar