Jerapah – Eps. 8

Dodi

Jadi, apa pemandangan terindah di jalanan Jakarta?

Mobil-mobil mewah? Gedung-gedung pencakar langit?

Tidak. Benda-benda itu hanya gerakan statis dan tidak menarik.

Bagaimana dengan drama di atas pentas sebuah teater besar seluas 661,5 km² dengan banyak cerita di dalamnya? Tanpa sutradara, tanpa pemeran pengganti, tanpa special effect, setingnya nyata, aktingnya tidak dibuat-buat. Musiknya berupa bunyi klakson, decitan rem mobil, teriakan-teriakan pedagang dan nyanyian pengamen, dan tentu saja embusan angin.

Ketika memainkan peran sesungguhnya dalam sebuah panggung aksi di bulan Mei, Toto menemukan seorang bocah pengamen dikeroyok dua pemuda. Ia berani pasang badan untuknya, berkali-kali dipukuli tapi tidak kesakitan, seakan tubunya kebal meski tidak sekuat itu. Saat gilirannya balas memukul, Toto sukses bikin kedua pemuda itu terjengkang. Johan baru datang setelah pertempuran berakhir.

“Sial! kenapa nggak kasih tau?” kata Johan menyesal.

Bocah pengamen itu bernama Dodi. Tampangnya terlihat lebih muda dari usianya yang sudah tiga belas atau empat belas tahun. Ia bukan berasal dari timur meski berkulit gelap dan berambut keriting kemerahan. Ayah kandungnya asli Jakarta, sedangkan ibunya datang dari Banten. Ada beberapa versi cerita tentang bocah itu, penulis bahkan tidak tahu cerita sebenarnya, tapi seperti inilah dia menceritakannya pada dua kawan barunya.

Ia mengaku tidak pernah mengenal ayah kandungnya. Yang ia tahu ayah tirinya seorang preman pemabuk dan pengangguran, yang sering memukulnya dengan ikat pinggang – bekas tanda pukulannya masih ada, paling parah berbentuk garis merah memanjang di punggung. Kalau tidak ingat ibunya, ia sudah kabur dari rumah sejak lama. Ibunya seorang pedagang sayur berpenghasilan dua puluh ribu per hari yang kesemuanya dirampas suaminya untuk berjudi. Dua minggu lalu ibunya meninggal karena penyakit pneumonia. Dodi menganggap ayah tirinya-lah yang membunuh ibunya. Ia tahu apa yang seharusnya dilakukannya pada ayah tirinya: ia membakar rumahnya di saat ayah tirinya sedang tidur.

“Mati?” tanya Johan.

Dodi mengangguk.

Johan mengambil ukulele-nya di tanah, memeriksanya sebentar dan berkata,

“Nggak ada yang rusak.”

Dodi mengatakan ukulelenya dibelinya dari uang hasil menabungnya. Tetapi kali ini penulis tahu dari mana ia mendapatkan benda itu. Ia mencurinya dari dua pengamen lain yang sedang tidur; dua pemuda itu, yang barusan dihajar Toto.

Lanjut>>

Komentar