Jerapah – Eps. 7

Johan

Hujan turun deras ketika Toto bertemu Johan. Mereka sama-sama berteduh di teras toko perkakas, berdiri bersandar di dinding. Terjangan angin membuat mereka pindah ke teras samping – kanopinya melindungi mereka dari serpihan air hujan. Toto memilih berjongkok, gitarnya di senderkan ke dinding. Johan yang sedari tadi memperhatikan Toto, ikut berjongkok.

“Ngamen lo?” tanya Johan, suaranya termakan angin, tapi Toto masih bisa mendengarnya.

“Nggak,” jawab Toto, menoleh sebentar ke Johan, lalu pandangannya kembali ke depan, ke deretan pohon dan rumah-rumah yang sepi.

“Boleh pinjem?”

Toto memberikan gitarnya pada Johan. Johan memetik beberapa senar dan memainkan intro Paint It Black. Toto melirik ke jari-jari Johan, menganggapnya boleh juga mainnya meski tidak tahu lagu yang dinyanyikannya.

“Gitar enak nih. Beli dimana?” tanya Johan, bergeser mendekat ke Toto, mengembalikan gitarnya.

“Dikasih teman.”

Ada jeda beberapa saat, keduanya sama-sama menatap ke depan. Hujannya berangsur-angsur memelan, tapi hanya sebentar, kemudian turun deras lagi.

“Tinggal di mana?”

“Belum tahu. Aku baru di Jakarta.”

“Nanti anterin gue beli gitar. Kita ngamen.”

Johan belum pernah mengamen, tapi ia pernah bernyanyi di panggung kampus. Wajah Johan yang lumayan tampan memang lebih mirip pemain band; bukan Boyband, hanya lebih macho, sebut saja Bon Jovi atau Gun ‘n Roses. Tubuhnya tinggi dan berisi namun agak bungkuk, rambut gondrongnya dikuncir, matanya sipit. Mungkin sedikit aneh melihat laki-laki bertampang chinese mengamen, tapi Johan merasa biasa saja. Ia suka lagu lama macam The Beatles dan The Rolling Stones. Keinginannya mengamen datang begitu saja setelah melihat Toto dengan gitarnya, sekalian kepingin tahu rasanya jadi pengamen, sekedar mengetes suara dan main gitarnya. Ia pikir dua gitar lebih baik dari satu gitar.

“Gue Johan,” kata Johan memperkenalkan diri.

“Toto,” kata Toto, mengeluarkan rokoknya dan menawarkan satu pada Johan. Johan punya korek sendiri. Kemudian keduanya mengisap rokok.

Tidak ada obrolan setelah itu. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Toto tidak merasa bersalah karena mencuri gitar itu. Seandainya Budi atau Ningsih tidak melakukan hal itu, maka ia tidak terpikir untuk mencurinya. Gitar itu rencananya akan dijualnya. Namun, ia mempertimbangkan tawaran mengamen dari kawan barunya.

Hujan berangsur-angsur memelan, rokok mereka sudah dilempar ke atas genangan air hujan. Johan bercerita bahwa ia baru dari Kampung Melayu ketemu bekas teman kampusnya yang tidak disangkanya jadi pengedar narkoba. Bekas teman kampusnya memperlihatkan satu gram sabu, yang disebutnya harganya satu jutaan. Ia membuat bong dari botol air mineral dan sedotan. Johan disuruhnya mengisapnya, tapi ia menolak. Ia bilang kepada Toto bahwa ia tidak akan pernah pakai narkoba. Tapi ia menerima saja ketika bekas teman kampusnya memberikannya satu gram sabu. Ia menunjukkan barangnya kepada Toto dan mengatakan bahwa ia akan menjualnya kalau lagi butuh uang. Toto bersikap biasa saja. Ia memang tidak pernah mencoba benda seperti itu; paling teler ia minum bir dan mengisap ganja. Ia memilih tidak mencoba narkoba karena ingat adiknya.

Hujan baru benar-benar reda sekitar jam satu. Mereka naik Metromini menuju Senen dan turun di pasar Poncol. Johan yang membayar ongkosnya. Johan bilang ia penggemar berat Gibson Klasik, cari-cari yang bekas tidak apa-apa yang penting kokoh dan bunyinya bagus. Mereka singgah dari satu kios gitar ke kios gitar yang lain, bertanya harga dan mengetes gitar, tetapi belum menemukan gitar yang cocok. Toto tidak tahu seperti apa gitar yang diinginkan kawan barunya itu. Yang ia tahu, ada kegiatan yang dilakukannya hari itu dan ia punya teman baru yang mentraktirnya es kelapa dan gorengan. Pada akhirnya Johan lumayan lama singgah di satu kios gitar. Satu per satu gitar dicobanya. Toto dimintanya dimintai pendapatnya. Tetapi sewaktu dibilangnya bagus, Johan malah mengembalikannya. Penjualnya masih sabar menunggu. Setelah belasan tahun jualan gitar, ia seolah punya indera keenam sehingga tahu sifat para pengunjungnya dan siapa yang benar-benar mau beli maupun sekedar melihat-lihat. Dengan Toto berada di samping Johan menunjukkan mereka berdua pengamen meski tidak bisa ditipu tampang Johan yang kekotaan. Sekarang siapa saja bisa jadi pengamen, bahkan orang yang terlihat keren sekalipun. Johan tidak memperlihatkan ketertarikannya pada sebuah gitar manis tersembunyi di sudut kios karena tidak ingin si penjual menaikkan harga. Ia meminta si penjual menurunkan gitar tersebut lalu mencobanya. Toto ditanyai lagi pendapatnya dan lagi-lagi dibilangnya bagus.

“Berani berapa?” tanya penjual.

“Empat ratus deh.”

“Empat setengah.”

Gitar itu sangat berarti bagi si penjual. Ia membelinya bertahun-tahun lalu saat menjadi pemusik di Bandung dan sengaja diletakkan di bagian terdalam tokonya tertutup gitar-gitar lain yang mengilap meski sengaja ditonjolkan sedikit supaya hanya orang-orang tertentu yang bisa membelinya. Ia menepuk lengan Johan dua kali karena berat melepas gitar yang sudah diberi nama itu.

“Jaga Rossa ya?”

Johan bilang pada Toto, gitar kayak begini bisa sampai tujuh ratusan. Lalu ia menyetemnya sebentar dan memainkannya sebentar. Sorenya mereka pergi ke deretan warung makan pinggir jalan dan mengamen di warung pecel lele. Johan menyanyikan Let It Be dan Hey Jude, sementara Toto mencoba menyesuaikan. Ada lima orang yang makan di warung itu, tapi hanya satu orang yang memberikan uang. Hanya seribu. Lumayan. Mereka pergi ke warung yang lainnya, sampai menjelang jam delapan mereka dapat enam warung dan kemudian pergi makan malam di warung seafood. Toto melihat harga di menu dan tidak punya cukup uang untuk membayar harga yang paling murah sekalipun. Apalagi mereka hanya dapat sepuluh ribu dari hasil mengamen. Tapi Johan yang mentraktirnya.

Kemudian mereka pergi ke monumen, tempat Toto pernah tidur di lantainya yang lembap. Mereka duduk di tangga dan bernyanyi, dan bertukar cerita tentang kehidupan masing-masing.

“Bisa jadi preman pasar lo,” kata Johan setelah Toto bercerita bahwa ia pernah menghajar tiga orang yang badannya lebih besar darinya. Entah kenapa Toto bisa terbuka padanya, mengingat selama ini ia orang yang tertutup. Mungkin karena tidak ada orang yang dikenalnya di Jakarta. Mungkin karena pembawaan Johan yang supel dan sepertinya bisa dipercaya.

Johan dulunya tinggal di Serpong. Ayahnya asli Manado dan ibunya seorang Cina-Surabaya. Ia dibesarkan dalam perang psikologis kedua orang tuanya yang berakhir perceraian di usianya yang keenam belas. Ia memilih tinggal di rumah ayahnya untuk alasan menanggung nama keluarga di belakang namanya dan kondisi keuangan sang ayah yang lebih baik. Meski begitu, ia memiliki hubungan baik dengan saudara-saudara dari pihak ibunya. Sebelum kabur dari rumahnya, ia mencuri tujuh kartu kredit dan uang tujuh belas juta milik ayahnya.

“Sekarang tinggal berapa?”

“Dikurangi beli gitar dan barusan traktir lo, jadi sekitar satu jutaan. Kenapa?”

“Gila.”

“Nggak gila sih. Si brengsek mantan gue yang ngabisin uang gue.”

Hujan turun lagi sekitar jam 11 malam. Mereka berteduh di emperan toko jam dan sekaligus bermalam di sana. Mereka menghabiskan malam dengan ngobrol, merokok, makan sebungkus kacang dan gorengan, setelah itu tidur di bagian samping teras yang berkanopi bersama seorang pemulung. Paginya, bunyi rolling door membangunkan Johan. Lalu Johan membangunkan Toto. Si pemulung sudah pergi sejak subuh. Pemilik toko tidak tahu dua orang sudah tidur di samping tokonya tadi malam. Yang ia tahu ia harus membersihkan puntung rokok, kulit kacang dan remasan kertas bungkusan gorengan.

Lusanya, mereka menemukan satu bangunan dua lantai yang terlantar sewaktu jalan-jalan ke timur, letaknya di tengah rumput-rumput yang tinggi dan bersemak. Ada jalan setapak menuju ke sana, di belakangnya ada gundukan tanah basah dan pohon kersen. Bangunan itu belum setengahnya jadi, masih lebih berupa rangka, tanaman rambat merayapi di sisi belakangnya, dindingnya berlumut, tidak ada kusen, lantainya berdebu dipenuhi kotoran semen-pasir yang sudah membatu. Ada sebuah tangga menuju atap, tempat mereka nongkrong di malam hari sambil memandangi langit dan atap-atap rumah di kejauhan.

Lanjut>>

Komentar