Jerapah – Eps. 12

Aturan

Mengamen di KRL tentunya lebih leluasa ketimbang di atas bis atau warung-warung makan: bisa bergerak bebas dan bernyanyi sampai selesai, tapi yang lebih penting dari itu, tidak ada gesekan dengan pengamen lain. Pengamen-pengamen KRL saling menghormati, tidak ada istilah berebutan gerbong, masing-masing bisa mengamen di waktu yang sama dan setelah itu mengamen bergantian dari gerbong satu ke gerbong lainnya. Mereka juga saling menyapa saat berpapasan, bahkan kalau mau, bisa berkolaborasi. Bisa dibilang pengamen di atas kereta punya penggemar masing-masing. Satu pengamen bisa ditanya penumpang tentang kabar pengamen lainnya. Tidak ada persaingan di antara mereka. Meski begitu, kau harus tahu satu hal: jangan pernah mengganggu pencopet.

Mereka naik KRL dari Stasiun Sentiong di jam 8.45. Memulainya dari gerbong delapan atau gerbong paling belakang. Gerbong itu hanya terisi setengahnya, Johan membuka konser mengamen mereka dengan mengucapkan selamat pagi dan mendoakan para penumpang dalam keadaan sehat. Itulah bedanya dengan mengamen di warung makan, selalu ada pembukaan. Toto, Dodi dan Bayu memperhatikannya. Johan memberikan aba-aba untuk memainkan lagu Ayah-nya Ebiet G. Ade, dan kemudian mereka memainkannya dengan sangat indah. Lagu itu memang sangat menyentuh. Selain menyentuh hati, juga menyentuh isi saku celana penumpang KRL. Kantong permen yang disodorkan Dodi kepada penumpang lumayan terisi, ada banyak recehan dan beberapa lembar seribuan. Setelah dihitung, mereka dapat enam ribu lima ratus. Lumayan. Masih ada tujuh gerbong lagi untuk di-ngameni.

Kira-kira jam setengah sepuluh mereka tiba di Stasiun Bekasi. Mereka langsung naik lagi ke KRL tujuan Pasar Senen. Tapi keretanya lumayan penuh, sehingga mereka baru bisa mengamen selepas Stasiun Jatinegara. Setelah mengamen, mereka duduk-duduk sambil minum es teh. Usia penjual es tehnya kira-kira seumuran Dodi atau Bayu. Bayu bilang simpan saja kembaliannya. Johan melirik ke seorang pria di sebelah wanita gemuk. Tangan pria itu mengendap masuk ke dalam tas kain si wanita. Johan yang datang mendekati wanita itu berkata, “Jam berapa, Bu?” Pria yang barusan buru-buru menarik tangannya lalu menggeser duduknya. Wanita itu bilang, “Jam sepuluh seperempat.” Kemudian Johan duduk lagi di dekat pintu keluar.

Gerbong itu hampir kosong di stasiun Sentiong, pria pencopet tadi mendekati Johan lalu merenggut bajunya. Dua pria lain kemudian ikut mendatangi Johan, ikut-ikutan mengancam. Toto lebih memilih diam sambil menunggu situasinya. Johan mengangkat kedua tangannya tapi wajahnya tidak menunjukkan rasa takut. Ketika pria pencopet melayangkan pukulan ke wajah Johan, Toto sudah lebih dulu menendang kakinya. Pria pencopet tersungkur, kakinya serasa patah. Dua temannya menghampiri Toto dan menghajarnya. Tetapi Toto sama sekali tidak merasa kesakitan. Toto membalas dengan pukulan yang lebih keras, lebih telak, membuat hidung keduanya mengucurkan darah. Johan yang sudah kepalang tanggung ingin berkelahi memukul kepala pria pencopet. Ketika tiba di Stasiun Pasar Senen, ketiga pria itu sudah babak belur. Dodi, Bayu dan tiga pengamen lain juga ikut menghajar mereka.

Setelah kejadian itu, Johan dan Toto lumayan terkenal di kalangan pengamen dan pedagang di sepanjang Stasiun Bekasi – Kota. Mereka memang tidak pernah menginginkannya, tetapi mereka menikmatinya.

Bersambung>>

Komentar