Jerapah – Eps. 11

Kos

Tidak mudah bagi Bayu melewati malam pertamanya tidur beralas kardus dan bertarung terus-terusan dengan nyamuk. Entah bagaimana caranya ketiga temannya bisa tidur nyenyak. Mereka bahkan bisa tidur sambil memeluk gitar dan ukulelenya, sementara ia mencemaskan tam tamnya dicuri orang lain. Tam Tam itu mungkin jadi benda kesayangannya sepanjang hidupnya selain koleksi novel Goosebumps-nya. Ia senang ketika Johan memujinya, mengatakan bahwa ia lumayan berbakat. Berbakat? Ayahnya bahkan tidak pernah mengatakan itu kepadanya. Namun, sebelum memegang tam tam, ia sendiri tidak tahu apa bakatnya.

Ia menguap panjang, tapi matanya sudah sulit dipejamkan. Dipukulnya nyamuk yang hinggap di pipi kanannya. Ia tidak bisa mengira-ngira sudah jam berapa sekarang, dilihatnya lagi temannya yang masih tidur nyenyak. Tapi ia tidak melihat Toto. Ia memandang berkeliling dan menemukan Toto sedang duduk merokok. Lalu terdengar suara batu-batuknya. Ia belum pernah ngobrol dengan Toto. Toto sepertinya memang tidak banyak bicara, tapi Dodi bilang Toto sangat baik, pernah menyelamatkannya dari preman.

Toto bangun sekitar jam 05.30, lalu membangunkan Dodi. Dodi membangunkan Johan dan Bayu yang ternyata bisa tidur meskipun kurang dari dua jam. Mereka mencuci muka di keran air di belakang ruko, Toto menampung satu botol air untuk persediaan air minumnya. Bayu menbayari mereka sarapan di warung nasi uduk di belakang Stasiun Kramat. Sepanjang pagi mereka jalan-jalan, nongkrong dan bernyanyi-nyanyi di Taman Mencos. Diam-diam Dodi mengajari Bayu merokok. Ia yang menyalakan rokoknya, mengisapnya satu kali lalu memberikannya kepada Bayu. Bayu mengapit rokoknya dengan jempol dan jari telunjuknya, mengisap rokoknya pelan-pelan, membuang asapnya lewat hidung dan terbatuk-batuk. Toto menoleh ke arah mereka, tapi Dodi sudah menyembunyikan rokoknya di belakang kakinya. Toto, biarpun perokok berat, tidak pernah membiarkan Dodi merokok di depannya. Ia akan melakukan hal yang sama kepada Bayu. Kalau Johan tidak masalah dua teman mudanya merokok atau tidak.

Mereka tiba di Salemba sebelum jam 12, lalu mengamen di sepanjang warung pinggir jalan yang dipenuhi mahasiswa, dan setelah itu makan soto betawi dekat UI. Bayu mentraktir mereka lagi. Dodi senang saja ditraktir terus, Toto tidak pernah mengomentari kecuali mengucapkan terima kasih, Johan memanggil Bayu dengan sebutan “Bos”.

“Bos, nanti malam makan di mana?”

Setelah mengamen sore hari, Johan bicara tentang ngamen di kereta. Kereta punya potensi bisa dapat uang lebih banyak. Mereka bisa melakukan itu pada pagi hari di kereta menuju Bekasi, lalu mereka mengamen di kereta yang ke arah Kota siangnya, atau mungkin sesekali mengamen di kereta yang ke arah Bogor. Namun, mereka tetap akan mengamen di warung-warung-warung makan khususnya pada akhir pekan. Johan terdiam sejenak, menunggu respon dari teman-temannya. Tidak ada yang bersuara. Mereka menganggap Johan lebih tahu masalah itu dari yang lainnya dan menurut saja apa pun keputusannya. Setelah itu, Johan bicara tentang mengganti ukulele milik Dodi dengan biola. Tapi bukan berarti Dodi nantinya akan memainkan biola. Dodi akan bermain gitar, sedangkan ia yang akan bermain biola. Johan pernah bermain biola waktu resital di tempat les musik sekitar delapan tahun lalu, waktu ia masih kelas 6 SD. Dengan sedikit latihan, ia akan terbiasa lagi memainkannya. Kemudian ia menyerahkan gitarnya kepada Dodi. Untungnya gitarnya cukup pas untuk ukuran tubuh Dodi, jari Dodi juga lumayan lentik, dan gitarnya sudah dipasangi tali strap. Punya gitar memang impian Dodi sejak dulu, apalagi, seperti Toto bilang, dirinya terlihat keren dengan gitar.

Johan menginginkan biola baru, yang klasik, dan kalau ada yang berwarna putih. Untuk itu ia meminta sedikit bantuan finansial Bayu untuk membelinya. Kalau pun Bayu keberatan atau uangnya menipis, pilihan lainnya ia akan menjual narkobanya. Apalagi, menurut informasi dari temannya, harganya lagi lumayan bagus. Meski begitu, ia tidak akan memberitahu masalah narkoba di depan dua teman mudanya.

“Gimana, Bos?” tanya Johan pada Bayu.

“Tidak masalah,” jawab Bayu. “Yang jadi masalah, di mana kita simpan barang-barang kita?”

Yang dikatakan Bayu ada benarnya. Bisa saja barang mereka dicuri sewaktu mereka tidur. Johan bilang, jangan menyulitkan diri selama ada uang. Sorenya mereka mencari kamar kos di sepanjang Kramat sampai Sentiong. Mereka mendapatkan tempat kos dengan harga seratus tujuh puluh lima ribu per bulan. Letaknya di pinggir kali, di lantai dua. Dindingnya dari triplek, ada satu kasur lantai, satu lemari plastik, kamar mandinya di luar. Pemilik kos bilang bayarnya setiap tanggal satu, jangan pakai narkoba, jangan mabok, jangan berisik. Mereka mengambil dua kamar, dan membayar (dengan uang Bayu) untuk tiga bulan.

Lanjut>>

Komentar