Jerapah – Eps. 10

Home Stay

Johan tertawa ketika Bayu datang pada mereka dan minta bergabung. Anak mami, begitulah kesan pertama melihat Bayu. Bayu, meskipun sudah mengubah penampilannya, tetap terlihat seperti anak mami. Johan bilang hidup di jalanan itu keras, sementara Bayu terlihat lembek, kulitnya terlalu halus, bulu matanya terlalu lentik, bibirnya terlalu merah, rambutnya terlalu hitam, ia bahkan tidak akan bertahan satu hari berada di jalanan. Namun, Johan suka semangatnya. Dengan datang ke tempat ini Bayu setidaknya sudah menunjukkan sedikit keberanian. Selain itu, Johan merasa Bayu punya kemiripan dengan dirinya, yang sama-sama berasal dari keluarga berada dan menginginkan kehidupan yang lebih menantang. Setidaknya itulah yang dilihatnya dari semangatnya. Ia menganggap si anak mami punya potensi dan perlu sedikit perbaikan penampilannya.

“Bisa main apa?” tanya Johan. “Gitar? Gendang? Tam Tam?”

Tam Tam? Baru kali ini Bayu mendengar alat musik itu. Ia menggeleng kepala.

“Nyanyi?”

“Sedikit.”

“Dengar ya, ngamen itu nggak gampang. Kita ini cari uang, bukan main-main. Kata Dodi lo punya uang. Beli aja tam tam. Nanti gue ajarin mainnya.”

Bermain tam tam kedengarannya menarik, benda itu semacam drum dengan kaki dan roda. Johan lumayan mahir bermain drum, dan tidak kesulitan ketika mengajari Bayu main tam tam. Keesokannya ia menemani Bayu membeli tam tam di Pasar Poncol. Bayu bilang ambil saja yang paling mahal. Johan tersenyum dan berkata, “Jangan sok kaya kalau mau jadi pengamen.” Lusanya Bayu resmi bergabung dengan mereka; ia memakai sandal jepit, celana jens selutut dan kaus hitam kusut.

“Lumayan,” kata Johan, mengacak-acak rambutnya.

Keempatnya menjelajahi tempat kuliner di belakang gedung pencakar langit, mengamen di jam makan siang, dan baru selesai menjelang maghrib. Kemudian mereka beristirahat sebentar, lalu lanjut mengamen mulai jam delapan sampai jam 10 malam. Perlu dua hari bagi Bayu membiasakan diri dengan kegiatan barunya. Ia anak yang cepat belajar, sebentar saja ia sudah sudah bisa memainkan tam tam. Ia berusaha mengambil hati mereka dengan mentraktir makan siang atau membelikan minuman, tapi Johan bilang ia tidak suka disuap. Somad sang supir dan asisten rumah tangganya tidak curiga ia pulang jam 10 malam, alasannya: belajar kelompok di rumah teman.

Bayu bisa merasakan hidupnya lebih menantang dan menyenangkan, irama tam tam selalu terngiang-ngiang kepala, ia bahkan tidak bisa melepaskan keinginannya untuk memukul-mukul meja di dalam kelas. Tapi ia menginginkan lebih dari sekedar tantangan. Ia ingin berpetualang dan bebas tanpa ada lagi rutinitas sekolah. Ia beruntung, ayahnya yang baru kembali ke rumah, pergi lagi ke luar negeri. Kali ini ke tujuannya Paris. Ia memanfaatkan momen itu untuk melaksanakan rencananya. Ia membuat surat pemberitahuan cuti sekolah dengan tanda tangan tiruan ayahnya dan lampiran profil sebuah universitas di Australia yang disalin dari internet. Ia juga membuat satu surat lain berupa formulir pendaftaran dan surat izin bertanda logo sekolah dengan tanda tangan palsu kepala sekolah untuk mengelabui ayahnya. Tidak terlalu sulit membuat surat resmi; ini hanya tentang ketrampilan memainkan Corel Draw dan membuat tanda tangan palsu.

Ia memenuhi tasnya dengan lima stel pakaian. Tidak, tapi tiga stel pakaian. Ia menelpon ayahnya, mengabarkan bahwa sekolah memberikannya kesempatan mengikuti Home Stay selama enam bulan di Australia. Ayahnya bilang: “Seperti itulah sekolah seharusnya, Nak.” Ia memindai surat palsunya yang kemudian dikirim kepada ayahnya lewat email. Ia memberikan surat berbeda dengan tanda tangan ayahnya untuk sekolahnya sebagai pemberitahuan, bahwa ia akan mengikuti Home Stay di rumah seorang profesor di Australia. Sangat mudah bukan? Ayahnya memberikan cukup uang yang ditransfer ke rekeningnya, tapi Bayu memilih tidak membawa ATM dan handphone-nya dalam petualangan barunya. Seperti Johan bilang: Jangan sok kaya kalau mau jadi pengamen. Kemudian ia mengucapkan selamat tinggal kepada teman-teman sekolahnya, Somad sang Supir, satpam rumah dan asisten rumah tangganya.

Lanjut>>

Komentar