Jaga Jarak

Malam itu, seperti kebiasaan yang dilakukannya selama dua minggu belakangan, Daus pulang dari masjid setelah orang-orang tua pulang lebih dulu. Sambil menunggu, ia membaca Qur’an, yang berakhir tatkala melihat Pak Rosidi melangkah ke luar masjid.

Mereka pulang ke arah yang sama. Daus berjalan agak jauh di belakangnya, dengan hati-hati dan pelan-pelan supaya tidak mendahuluinya.

Pak Rosidi, yang berusia enam puluh empat dan masih terlihat bugar, tidak biasanya berjalan amat lambat. Ia sesekali berhenti untuk memetik daun di pohon pinggir jalan, menggaruk kakinya, atau memungut bungkus plastik dan membuangnya ke tempat sampah.

Supaya jaraknya tetap terjaga, Daus menyesuaikan langkahnya. Ia juga berhenti ketika Pak Rosidi berhenti. Tapi karena Pak Rosidi berjalan terlalu lambat, ia jadi kepikiran untuk mendahuluinya, mengatakan: “Saya duluan, Pak,” yang sudah dua minggu tidak dilakukannya, saat berpapasan dengannya nanti.

Sapaan yang mudah itu memang sudah sering diucapkannya. Hanya itu yang bisa dilakukannya saat ia mendahului orang-orang tua, selain kata “Pak” yang diucapkannya sambil menunduk saat berpapasan dengan mereka dari depan. Ia tidak bisa mengatakan lebih dari itu. Ia hanya remaja tujuh belas tahun yang tidak terbiasa mengobrol dengan orang-orang tua.

Daus berhenti melangkah. Ia melihat di depan Pak Rosidi ada seseorang yang berjalan lambat. Pikirnya, mungkin orang itu yang jadi alasan Pak Rosidi berjalan lambat. Tapi siapa orang itu? ia bertanya dalam hati, sambil menyipitkan matanya.

Ia memang rabun jauh dan tidak membawa kaca mata, sehingga butuh beberapa lama sebelum akhirnya ia bisa mengenali orang itu. Nama laki-laki itu Pak Joko, Ketua RW 13. Semua orang tahu Pak Joko berjalan amat lambat. Selain karena faktor usia, ia sudah dua tahun kena stroke.

Seorang petugas keamanan yang sedang duduk di pos ronda datang menghampiri Pak Joko, kemudian keduanya terlihat sedang membicarakan sesuatu. Agak jauh di belakang mereka, Pak Rosidi sudah berpindah ke pinggir jalan merapat ke pagar rumah orang. Ia berdiam di situ sambil sesekali menengok ke arah Pak Joko.

Daus, yang kini berdiri di balik pohon mangga, berpikir keras, “Bagaimana mungkin seseorang yang jauh lebih tua dan dianggap paling bijaksana di lingkungan ini punya pikiran yang sama denganku?” Ia tersenyum, dan meneruskan perjalanannya setelah Pak Rosidi berbelok di pertigaan jalan.

*      *      *

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Don`t copy text!