Hujan

Lantai 21 itu sangat sepi. Ini hari Jumat. Tidak ada yang suka pulang telat di hari Jumat di akhir bulan. Apalagi di musim hujan. Kecuali Mo. Yang sedang menikmati kesendiriannya. Tanpa dering telpon. Tanpa mulut-mulut cerewet.

Mo bekerja seperti maraton hampir setiap hari. Seperti hari ini. Untuk mengejar rapat jam tujuh pagi, Mo sudah mempersiapkan bahan presentasi sejak malam hari di rumah. Ia tidur jam 02.15, bangun sebelum azan subuh, menyempatkan sarapan roti dan secangkir kopi, naik kereta jam 05.45 dan tiba di kantor sebelum jam 6.30. Mo memulai pekerjaan lebih pagi dari semua staf kantor.

Rapat selesai tepat jam 10.00. Mo bergegas memperbaiki printer di bagian akunting dan mengajari beberapa staf baru meng-input data setelah sholat Jumat. Makan siangnya digeser ke jam tiga, sekalian sholat asar karena ia harus mewawancari calon staf IT jam 14.30. Setelah itu ia memperbaiki database yang error dan upload artikel untuk website perusahaan. Mo baru bisa benar-benar santai setelah jam 19.30.

Kang Asep, petugas cleaning service itu, baru saja mematikan lampu lorong. Mo berpapasan dengannya di pantry.

“Kang Asep balik ke Bogor?” tanya Mo.

Kang Asep biasa menunggu waktu pulang di pantry sambil nonton TV. Ia tidak perlu mencuci piring atau gelas orang lain, setiap karyawan yang makan di pantry harus mencucinya sendiri. Pengumuman itu terpampang di dinding di sebelah rak piring. Manajer bagian umum yang membuatnya. Tugas Kang Asep hanya mencuci gelas-gelas tamu.

“Iya, Mas,” jawab Kang Asep. Ia akan pulang kampung besok siang, setelah mem-vaccum karpet ruang direksi.

Mo mengeluarkan lima puluh ribu dari saku celana, memberikannya kepada Kang Asep dan berkata,

“Buat jajan anak-anak.”

Mo mendengar kabar itu dari Yuni, si office girl, bahwa istri Kang Asep sakit stroke. Sudah tiga bulan. Tangan dan kaki kanannya lumpuh. Meski begitu, istri Kang Asep masih bisa berjualan nasi uduk di rumah, dibantu anak gadis tertuanya yang baru lulus SD. Mo tidak pernah bilang uang pemberiannya untuk pengobatan istri Kang Asep. Selalu saja ada alasan supaya Kang Asep mau menerimanya. Bulan lalu Mo memberikannya seratus ribu untuk ongkosnya pulang kampung.

“Saya balik duluan, Kang,” kata Mo, menepuk pelan bahu Kang Asep.

Kang Asep berdiri, bermaksud mengantar Mo sampai ke lift.

“Katanya Mbak Sarah mau berhenti kerja bulan depan,” kata Kang Asep, lebih untuk menarik perhatian Mo.

Mo sudah tahu kabar itu langsung dari mulut Sarah, tetapi memilih untuk tidak menanggapi. Ia menduga Sarah curhat pada seseorang. Mungkin pada Yuni, si office girl. Yuni pendengar yang baik, dan biasanya Yuni akan meneruskan ceritanya pada Kang Asep. Jadi Mo tidak kaget Kang Asep tahu kabar itu. Mo berharap Kang Asep tidak tahu alasan Sarah berhenti bekerja; Sarah akan menikah di bulan Juni.

Mereka berhenti di depan lift. Setelah menekan tombol turun, Mo berkata: “Salam buat keluarga, Kang.”

Kang Asep memandang bayangannya di pintu lift yang tertutup. Ia merasa tidak enak bicara tentang Sarah barusan meskipun Mo tidak memperlihatkan raut wajah tidak suka.

*

Lobi gedung itu sangat luas. Dindingnya bergaya klasik tradisional dengan ukiran kayu dengan daftar perusahaan-perusahaan penyewa di atas meja resepsionis. Lampu utama sudah dimatikan, menyisakan penerangan di bagian barat, di atas lantai marmer yang sedang dipoles. Mo keluar melalui pintu kaca sebelah timur, satu-satunya pintu yang masih dibuka. Angin bertiup cukup kencang. Bulu-bulu tangan Mo berdiri. Ia menggosok-gosokkan tangannya untuk sedikit kehangatan.

Lampu taman menyala redup, tapi cukup menerangi beberapa orang yang masih nongkrong. Mo lumayan sering duduk di taman. Biasanya sehabis makan siang, untuk membaca buku atau mengobrol, ditemani Sarah, yang membawakan kapucino dan sekantong camilan. Sarah sering meminta Mo menceritakan buku yang sedang dibacanya. Jika begitu, Mo akan menceritakannya dengan akhir cerita yang dikarang sendiri.

“Kamu seharusnya jadi penulis,” ujar Sarah.

Jalan taman yang melingkar berakhir di jalur keluar sepeda motor. Pintu keluar gedung terletak di samping gardu parkir. Di pinggiran jalan berjejer lapak pedagang makanan. Gado-gado telur langganan Mo tepat berada di sebelah pintu pagar.

Baru jam 20.00. Mo tinggal berjalan menanjak sepanjang seratus meter lagi menuju jalan raya. Semakin ke atas tidak ada lagi keramaian pedagang. Dua mini market yang bersebelahan masih buka sampai jam 23.00. Nafas Mo terengah-engah, seolah sedang mendaki bukit yang tinggi. Ia berniat jogging di hari Sabtu atau Minggu pagi nanti. Sudah lama ia tidak olah raga berat. Terakhir satu bulan lalu, saat bermain futsal dua jam penuh. Kini berat Mo semakin bertambah, perutnya sedikit maju. Terkadang ia malah lebih suka terlihat seperti itu. Sarah juga menyukainya. Kelihatan lebih dewasa, katanya.

Halte bis itu berwarna oranye. Baru dicat sebulan lalu menggantikan warna biru yang penuh coretan. Bangkunya tidak terlalu panjang. Cukup untuk empat orang. Papan reklame neon di samping kanan membuat halte bis lebih terang. Hanya ada Mo dan seorang wanita hamil yang duduk di ujung kanan. Sekilas Mo mengenalinya. Kalau diingat betul, Mo pernah bertemu dengannya tiga tahun lalu.

Saat itu pertengahan Mei 2004. Mo baru saja sampai di lobi gedung ketika melihat seorang perempuan muda menarik yang sedang berdiri di samping lift. Perempuan itu memakai stelan blazer hitam dengan kancing berwarna kuning, celana panjang hitam dan sepatu rata. Mo berpapasan dengan manajer HRD yang memberitahu akan ada rapat setelah jam makan siang, dan sedikit obrolan tentang tempat makan baru di gedung sebelah. Perempuan itu masih berdiri di samping lift saat Mo melangkah ke ruang ATM.

“Lantai berapa?” tanya Mo sekedar menebak kalau-kalau perempuan itu kesulitan memakai lift.

“Dua dua Mas,” jawabnya spontan dengan logat Jawanya yang kental.

“Lift-nya sebelah sana,” kata Mo menunjuk lift di seberang. “Tidak semua lift berhenti di tiap lantai.”

Sementara perempuan muda itu memerhatikan deretan lift lain serta angka-angka di atasnya, Mo memerhatikan wajahnya yang manis. ‘Dua dua Mas’. Suara itu masih terdengar di kepala. Mo menyukai logat jawanya, berharap bisa bertemu dengannya lagi.

Kini perempuan muda itu sudah menjadi seorang nyonya. Mo berpikir ia tidak akan pergi sebelum wanita itu pergi duluan. Ia merasa kasihan padanya. Beberapa kali wanita itu mencoba menelpon, tetapi tidak ada jawaban.

Siapa yang tega membiarkan istrinya bekerja dan menunggu sampai larut malam? tanya Mo dalam hati.

Jawabannya datang ketika sebuah BMW hitam berhenti di depan mereka. Seorang pria tampan keluar dari dalamnya. Pria itu tampak rapih, rambutnya bersinar, wangi parfumnya menyebar di seluruh tempat itu. Ia tersenyum pada si wanita hamil. Namun, yang diberikan senyum malah cemberut. Setelah itu Mo menonton drama, saat pria itu mencoba memohon sambil memegang tangannya dan merendahkan tubuhnya. Mo tidak lagi memerhatikan mereka, kecuali menangkap kata maaf dan aku cinta kamu.

*

Bis yang dinaiki Mo tidak terlalu penuh. Ia memperkirakan akan tiba di rumah sebelum jam sepuluh. Itu pun jika tidak terlalu lama menunggu bis lanjutan di terminal bayangan di Tol Jati Bening.

Satu bulan lalu Mo masih menyetiri mobil Sarah. Sarah memang selalu menunggu Mo menyelesaikan pekerjaannya dan berbaik hati membelikannya makan malam. Namun, entah mengapa malam itu tiba-tiba Mo meminta Sarah untuk tidak lagi menunggunya.

“Pulanglah,” kata Mo sambil mengetik di laptopnya. “Aku naik bis.”

“Kenapa Mo?”

“Aku cuma … lagi banyak pekerjaan.”

Keesokannya, Mo mengatakan hal yang sama pada Sarah, meminta Sarah tidak menunggunya. Begitu juga hari setelah itu, dan hari setelahnya. Hingga akhirnya Sarah menyadari ada masalah dalam hubungan mereka. Dia pun mencari tahu apa penyebabnya. Setahunya, Mo tipe laki-laki setia dan tidak mungkin berselingkuh, kalaupun Mo dekat dengan perempuan-perempuan kantor, itu karena pekerjaan. Satu-satunya kemungkinan adalah …

“Apa karena jabatanku?” tanya Sarah.

Mo memandang kemacetan yang memanjang di jalur lain dan merasa beruntung tidak berada di sana. Enam tahun bukan waktu yang sebentar bekerja di perusahaan yang sama. Di usianya yang kedua puluh delapan, seharusnya ia bisa mendapatkan jabatan dan gaji tinggi. Beberapa teman kampusnya sudah punya mobil dan supir sendiri. Mo punya kecerdasan dan relasi. Ia pernah berpikir akan membuka usaha suatu saat nanti. Bisnis kuliner atau jadi website developer. Atau … mungkin benar apa yang dikatakan Sarah. Ia seharusnya jadi seorang penulis.

Hujan turun. Percikan air masuk melalui celah jendela menciprati wajah Mo. Mo menarik jendela kaca yang kesat itu, tapi ada sesuatu yang mengganjal sehingga tidak bisa tertutup rapat. Mo memutuskan pindah ke kursi di seberangnya.

Kini Mo bisa duduk lebih tenang. Angin membuatnya mengantuk. Beban pikirannya perlahan terangkat, urat-urat kepalanya mulai mengendur. Namun, ia tidak ingin sampai jatuh tertidur, atau ia akan melewatkan tempat pemberhentiannya.

*

Mo satu-satunya penumpang yang turun di Tol Jati Bening. Sergapan air hujan membuatnya lebih segar. Ia membuka payung dan berjalan mendekati seorang lelaki tua yang tampak kedinginan.

“Pulang ke mana, Pak?” tanya Mo, memayunginya.

“Karawang,” jawab lelaki tua itu.

Lelaki tua itu seorang pesuruh di sebuah perusahaan asuransi di Tanah Abang. Usianya sudah lebih dari enam puluh, tubuhnya kurus dan tegap. Ia memakai topi hitam dan jas hujan plastik transparan, celananya panjangnya digulung hingga selutut. Ia memicingkan matanya tiap kali bis mendekat dan meminta Mo membacanya. Ia mendapatkan bisnya jam 21.35.

Hujan turun semakin deras, angin yang bertiup tidak beraturan menarik-narik payung Mo. Mo memegang payungnya kuat-kuat, kabut air menghalangi pandangannya sehingga ia sedikit kesulitan membaca nomor bis yang datang.

Sebuah bis berhenti tidak jauh darinya, menurunkan seorang penumpang perempuan. Perempuan itu berhenti sebentar untuk membuka sepatu dan menentengnya, lalu berlari menghampiri Mo sambil berharap pria itu mau berbagi payung dengannya.

“Numpang, ya?” kata perempuan itu.

Mo bergeser untuk memberinya ruang berteduh. Ia merasa canggung ketika perempuan itu memandang wajahnya seolah-olah mengenalnya.

“Marmo?”

Perempuan itu bernama Nina, teman SMP Mo.

Mereka pulang ke arah yang sama. Di bis yang sama mereka duduk bersebelahan. Tidak ada pembicaraan setelah itu. Nina sibuk mengeringkan rambut dan mengelap tubuhnya dengan handuk putih, sementara Mo ….  

Mo melirik wajah Nina, lalu memerhatikan jari-jari tangannya yang lentik tanpa cincin. Nina tidak tahu dirinya sedang diperhatikan. Dia lumayan sibuk dengan dirinya sendiri; melihat wajahnya di cermin bedak sambil menghilangkan eyelash yang luntur dengan jari telunjuk, lalu memoles bibirnya, mengikat rambutnya dan setelah itu tenggelam dalam selularnya. Tali BH-nya terlihat dari kaos putihnya yang lepek.

Mo menyenderkan kepala, melipat tangannya di dada dan memejamkan matanya. Tapi belum sampai semenit ia terbangun. Ia merasakan tetesan air jatuh ke atas bahu kanannya. Sial. Bagaimana mungkin dapat dua bis bocor dalam satu kali perjalanan? Ia menggeser duduknya lebih merapat ke Nina, merasakan lengannya, yang berbulu lebat, menyentuh lengan Nina.

*

Mereka turun di pertigaan Mal Metropolitan. Mo memayungi Nina dari belakang dan membiarkan dirinya basah.

“Kau tahu,” kata Mo, “aku berencana akan berhenti kerja tahun depan.” Ia baru menyadari tubuhnya sedikit lebih pendek dari Nina saat berjalan berdampingan.

“Bisnis?”

“Penulis. Aku ingin jadi penulis.”

“Oh ya?” Nina tidak pernah tahu, waktu SMP, Mo pernah beberapa kali mengirim cerpen ke majalah remaja, tapi tidak ada satu pun yang dimuat. “Nulis apa? Novel?”

Mo baru akan menjawab ketika sebuah sedan yang melintas di samping mereka mencipratkan lumpur ke wajahnya.

Mereka berhenti melangkah. Nina buru-buru mengeluarkan handuk putih dari dalam tas dan mencoba membersihkan wajah Mo, tetapi Mo menahan tangannya di udara. Untuk sesaat mereka saling berpandangan.

Staff only,” kata Mo, memecah kebekuan.

Mereka tersenyum. Mereka tertawa. Sebelumnya, tidak pernah kejadian ini dialami oleh keduanya dengan siapapun.

Tuhan menurunkan hujan untuk maksud-maksud tertentu yang terkadang sulit dimengerti manusia. Dan untuk segala maksud yang dipahami seharusnya menjadikan manusia selalu bersyukur. Pertemuannya dengan Nina membuka kenangan Mo sewaktu di SMP. Mo pernah jatuh cinta pada Nina, tapi tidak pernah menyatakannya. Waktu itu semua anak lelaki mendambakan Nina untuk menjadi kekasih. Mereka datang dengan kelebihan masing-masing: ketampanan, kekayaan, kepintaran atau sekedar pesona menarik perhatian. Sedangkan Mo hanya orang biasa dan tidak diperhatikan.

Dan sebagaimana pertemuan terjadi, perpisahan datang bukan atas keinginan mereka. Di perempatan jalan Mo mengucapkan selamat tinggal. Nina membalasnya dengan kecupan di pipi kanan dan sebuah kartu nama.

Hujan belum reda, jalan-jalan masih dipadati kendaraan, orang-orang masih terlihat berteduh di halte bis dan teras ruko.

Nina berhenti di halte bis di depan hotel. Dia mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi seseorang yang akan menjemput, tapi dia mengurungkannya. Dia tersenyum. Dia hanya ingin mengingat Mo. Bukan untuk mengingat Mo di masa lalu, melainkan sebagai orang yang barusan dikenalnya. Tadinya dia hanya ingin numpang berteduh di bawah payung milik Mo, tapi entah kenapa, seperti popcorn, nama Marmo meletus begitu saja di pikiran.

Marmo. Nama itu tidak populer di masa lalu. Hal yang paling diingat Nina tentang Mo adalah Mo seorang laki-laki pemalu. Sampai saat ini. Itu yang dirasakannya sewaktu di bis. Dia menunggu Mo membuka obrolan, tapi Mo tidak melakukannya. Ya ampun, hal itu sempat membuatnya gregetan. Hingga akhirnya, entah sengaja atau tidak, lengan Mo bersentuhan dengan lengannya. Mungkin itu sebuah pertanda, pikir Nina. Karena itu dia memberanikan diri menggenggam tangan Mo dan menyandarkan kepala di bahunya. Masih belum ada obrolan setelah itu, kecuali kehangatan di antara mereka.

Di tempat lain, Mo sudah memasuki gang yang sepi, beberapa orang berlarian mendahuluinya. Ia menutup payungnya, lalu menengadahkan wajah ke langit untuk merasakan air dingin yang jatuh ke wajahnya. Kemudian ia memejamkan matanya dan tersenyum mengingat dirinya sewaktu di SMP, ketika ia membiarkan dirinya kehujanan demi perempuan itu dan pulang dengan teguran sang ibu. Mo bertanya dalam hati, apakah Nina masih mengingatnya?

Semenit kemudian Mo membuka matanya dan melanjutkan perjalanannya. Ia tidak sabar untuk segera sampai di rumah dan menelpon seseorang yang dirindukannya. Seseorang yang ia pernah coba menjauh, tetapi kini sudah kembali lagi. Seseorang yang akan dinikahinya di bulan Juni.

*  * 

Komentar