huang-ho-dan-lukisan-berdarah

Huang Ho dan Lukisan Berdarah

Ini adalah kisah Huang Ho, si pelukis kematian. Ia melukis sesuatu yang berdarah, seperti kepala terpenggal atau tembakan di kepala. Ia tidak melukis hukuman gantung, suntikan mati, atau keracunan. Karena tidak ada darah di situ. Tidak ada darah berarti tidak ada kehidupan. Kecelakaan bisa menjadi sumber inspirasi lain. Huang Ho pernah melukis kecelakaan bis yang membunuh tiga puluh penumpang. Seorang penumpang yang terjepit di antara casis bis dengan tusukan batang besi menembus dada menjadi fokus lukisan. Sang Gubernur menyukai lukisan tersebut.

“Ini akan menjadi lukisan penting!” kata Sang Gubernur dalam pidato duka cita itu, lalu memerintahkan polisi untuk melarang siapa saja mengubah tempat kejadian sebelum Huang Ho hadir dan melukisnya. Huang Ho membayarnya dengan lukisan mengagumkan. Huang Ho melukis darah dengan darah.

Hanya orang-orang tertentu yang membeli lukisannya, kebanyakan pejabat negara, diktator, dan orang-orang yang punya kuasa atas orang lain. Mereka membeli dengan harga tinggi. Tapi Huang Ho tidak menerima lukisan pesanan. Jika ada yang ingin lukisan diri, maka ia harus dalam posisi berdarah. Huang Ho menyukai lukisan bunuh diri.

Namun, tidak selamanya Huang Ho melukis tentang kematian, setidaknya setelah ia bertemu Hui san, orang yang mengajarkannya kasih sayang dan kelembutan. Saat itu di musim semi yang sejuk, Huang Ho sedang berdiri memandang laut, membayangkan para bajak laut menghabisi tentara Inggris lalu melempar mayat-mayat tersebut ke dalam laut yang dipenuhi hiu, ketika mendengar suara seseorang berkata:

“Laut memang indah, bukan?”

Laki-laki itu bernama Hui San. Orang-orang mengenalnya sebagai seorang yang bijaksana.

“Ya,” jawab Huang Ho, masih memandang darah-darah yang bertebaran di permukaan laut.

“Laut itu hidup. Antara laut dan isinya dan apapun yang hidup darinya,” Hui San menepuk pundak Huang Ho.

Huang Ho tersenyum, sebuah senyum palsu. Ia tahu kata-kata itu hanya untuk menyindir dirinya.

“Bukankah kehidupan itu indah?”

Sesaat suasana berubah hening. Pandangan Huang Ho terpecah. Darah-darah di lautan memudar, lautan kembali menjadi biru berkilauan. Huang Ho melihat apa yang dilihat Hui San, merasakan apa yang dirasakan Hui San. Ia merasakan kedamaian.

Tapi, bagaimana mungkin? Mungkinkah laki-laki muda ini sedang menyihir dirinya?

Tidak. Hui San hanya menyadarkan Huang Ho dari lamunan yang menyesatkan dengan memberikannya penglihatan sehingga yang tampak dalam pandangannya adalah sesuatu yang indah.

Bukankah kehidupan itu indah?

“Ya, kehidupan memang indah,” jawab Huang Ho pelan. Sebuah jawaban jujur.

Hui San berkata bahwa orang baik akan bereinkarnasi menjadi apapun yang baik, dan sebaiknya Huang Ho percaya akan hal itu. Ia kemudian bercerita tentang Yin dan Yang, tentang keseimbangan alam, dan cerita dewa-dewa yang memberi berkat pada orang-orang yang berbuat kebajikan.

Cerita-cerita tersebut memacu jantung Huang Ho semakin cepat, menggetarkan nyalinya, padahal sebelum itu ia tidak pernah takut pada kematian. Hui San telah membuatnya berpikir ulang tentang kegemarannya melukis kematian.

Apakah aku jahat? tanya Huang Ho dalam hati.

Tidak. Tidak ada yang menganggapnya jahat. Ia tidak pernah membunuh atau menyakiti orang. Toh, ia hanya seorang pelukis.

“Ijinkan aku belajar darimu,” kata Huang Ho. “Aku ingin tahu banyak tentang kehidupan. Aku akan melukis kehidupan, itu pun jika kau mengajarkanku tentang kehidupan dan kebahagiaan.”

Mereka bertemu lagi di tempat yang sama besoknya. Hui San menceritakannya kisah-kisah kehidupan, tentang orang-orang yang berbuat kebajikan berserta ganjaran yang didapatkannya. Lusanya, di tempat yang sama, ia menceritakan tentang alam, tentang burung-burung pembawa kabar gembira dan anak kucing yang menghibur anak-anak manusia. Huang Ho mendengarkannya dengan penuh khidmat, tanpa menyela atau bertanya. Apa yang diceritakan Hui San sangat jelas terbayang di kepalanya. Apa yang jelas terbayang di kepalanya segera dilukisnya di atas kanvas.

Hari demi hari berlalu, pelan-pelan ia mulai menemukan lukisan kehidupan. Ia melukis burung-burung yang bertebaran di langit, anak-anak ayam berlarian di atas rumput, gunung-gunung yang perkasa, lautan yang bersinar. Kabar tentang dirinya melukis kehidupan menyebar ke kampung-kampung. Ada yang senang dengan kabar tersebut, ada pula yang kecewa. Tapi Huang Ho tidak memedulikannya.

Meskipun demikian, ia kecewa pada dirinya sendiri, karena ia belum bisa melukis wajah-wajah bahagia. Ia ingin sekali melukis orang-orang tertawa, ibu yang menyusui bayinya, petani menggarap sawah, atau anak-anak bermain tanah. Suatu kali ia melukis potret seorang laki-laki yang sedang bermain dengan bayinya. Awalnya ia melukis dengan baik, akan tetapi ia tidak menyadari jika tangannya sedang mengubah senyum sang Ayah menjadi wajah yang suram, sementara bayi yang sedang diangkatnya tinggi-tinggi mempunyai bentuk aneh; bayi itu memiliki buntut dan dua tanduk di kepala. Huang Ho marah pada dirinya sendiri, lalu membakar lukisan yang belum selesai itu. Ia merasa ada yang salah pada dirinya, menganggap dirinya belum sepenuhnya menjadi manusia baik.

Di suatu pagi yang cerah Huang Ho pergi menemui Hui San di kuil. Hui San yang tampak tenang berdoa tidak mungkin diganggunya. Jadi ia menunggu di bawah pohon sampai Hui San menyelesaikan doanya.

Pengunjung kuil datang silih berganti, matahari semakin meninggi, akan tetapi Hui San tetap tidak bergerak. Angin yang lembut menidurkan Huang Ho. Ia bermimpi indah; ia berada di tempat yang disebut khayangan, dengan air terjun, pelangi, dan bunga-bunga. Dua pria tua membawanya ke sebuah perkumpulan, lalu menempatkannya di antara orang-orang yang sedang berdoa seperti yang dilakukan Hui San. Ia terbangun ketika selembar daun jatuh di wajahnya. Pada saat itu Hui san sudah menyelesaikan doanya dan sedang berjalan menuju taman. Huang Ho bangkit, lalu bergegas menghampirinya.

“Aku melukis kehidupan,” kata Huang Ho.

Hui San membawanya ke tepian kolam, kemudian mereka duduk di atas batu besar. Hui San mengeluarkan makanan ikan dari kantong kain di pinggangnya, lalu melemparnya ke kolam.

“Aku melukis ikan-ikan dan burung-burung tapi aku belum sanggup melukis manusia hidup. Masa lalu seolah menggangguku. Kebahagiaan manusia akan rusak dalam lukisanku. Kau benar, manusia dan hewan sama-sama mempunyai nyawa, tapi hewan tidak punya jiwa.”

Hui San melempar lagi makanan ke kolam. Dari kantong lain ia mengeluarkan biji-bijian dan melemparkannya ke jalanan. Burung-burung berdatangan dan mematuknya hingga habis.

“Aku memutuskan untuk melukis seseorang yang telah memberiku arti kehidupan. Aku ingin melukis kau.” Huang Ho berharap dengan melukis Hui San akan menjadi awal yang baik dalam melukis manusia hidup yang bahagia.

Hui San tersenyum, dan berkata, “Jika itu akan memberimu kehidupan.” Kemudian ia memberi Huang Ho sebuah kantong makanan dan memintanya melemparkan makanan itu pada ikan-ikan.

Cahaya matahari mulai meredup, sisa-sisa sinarnya membentuk bayangan panjang, menyatu dengan malam.

*

Di ruangan bercat putih ini Huang Ho akan melukis Hui San. Kain-kain putih menutup puluhan lukisan, kanvas, cermin, kursi, meja, dan lemari kecil. Sinar matahari yang masuk melalui jendela kaca memberi penerangan yang cukup.

Huang Ho mengenakan pakaian hitam. Ia selalu mengenakan pakaian hitam karena hitam bukanlah sesuatu yang buruk seperti yang dikira, ia akan membuktikannya dengan melukis Hui San. Di sampingnya, Hui San berjalan mengelilingi ruangan dengan penuh keingin tahuan tentang lukisan-lukisan yang tergantung di dinding. Ia berhenti di depan sebuah lukisan yang tertutup kain putih.

Huang Ho menduduki kursi yang tertutup kain putih di tengah ruangan, wajahnya menampakkan ketenangan, matanya memandang pada satu titik di hadapannya.

“Aku bermimpi tadi malam,” Huang Ho berkata. “Kau berada dalam mimpiku. Aku melukis dirimu. Kau begitu tenang dan bahagia. Itulah alasannya aku menciptakan putih di ruangan ini untuk lukisanmu …”

Hui San menyingkap kain penutup lukisan hingga setengahnya, dan bisa mengenali benda itu sebagai lukisan kematian. Ia kemudian membuka kain penutupnya lebih lebar lagi sehingga terlihat lukisan seorang algojo sedang menyandarkan kedua tangannya pada sebuah kapak besar. Algojo itu tersenyum setelah memenggal kepala seorang tahanan. Di ujung kiri bawah tertulis nama tempat, tanggal, dan nama Huang Ho yang ditulis dengan darah.

Hui San menutup lukisan itu dan beralih ke lukisan lain.

“Dalam lukisan itu … kau begitu indah dan bahagia hingga aku tidak sanggup melanjutkan.”

Hui San berhenti di depan sebuah lukisan besar lainnya lalu membuka kain penutupnya.

Dalam lukisan itu dua prajurit menusuk jantung musuhnya dengan bayonet di bawah bayang-bayang pohon besar yang lebih menyerupai bayangan kematian. Prajurit yang terjatuh itu berhasil menusuk leher musuhnya. Darah memancar dari lehernya disertai pekik kematian yang bisa didengarnya.

Hui San menutup lukisan itu. Ia tidak terganggu dengan lukisan-lukisan kematian.

“Burung-burung bernyanyi, dan kau berada di taman sedang melempar biji-bijian”

Hui San berjalan menuju lukisan berikutnya, dan berhenti di depan sebuah lukisan seorang wanita muda dengan sebilah pisau yang tertancap di jantungnya—wanita itu tampak berusaha mencabutnya. Di sisi lain, seorang pria sedang membuka pintu, garis cahaya yang masuk ke ruangan memberi warna penegasan kematian.

Tiba-tiba lukisan itu bergerak. Seorang pria yang tadi berdiri di depan pintu berjalan masuk mendekati si wanita muda yang sekarat. Pria itu lalu mengangkat tubuh sang wanita dan memeluknya. Hui San dapat melihat kesedihan di wajah sang pria beserta dendam yang memancar dari matanya. Pria itu memalingkan wajahnya kepada Hui San, menatapnya penuh amarah. Ia membaringkan wanita itu dengan hati-hati, lalu melangkah menuju Hui San! Tapi tidak … pria itu rupanya tidak mendatangi Hui San, melainkan pria lain di dalam lukisan. Pria itu adalah Huang Ho muda yang sedang melukis wanita yang malang tadi. Huang Ho mempunyai teknik kecepatan melukis objek yang sedang sekarat, dan ia akan menyelesaikannya pada detik wanita muda itu mati! Tapi itu sepertinya tidak akan terjadi karena sang pria merenggut kanvasnya, kemudian memukul Huang Ho hingga jatuh tersungkur. Pria itu baru akan menendang Huang ketika Huang Ho berhasil bangkit, dan dengan cepat menusuk perut pria itu dengan patahan kuas. Pria itu mencoba mencabutnya, tapi kematian lebih cepat datang. Ia terjatuh dan terbaring di samping si wanita muda. Dan lukisan itu pun membeku.

Hui San menutup lukisan itu, lalu terdiam.

Huang Ho datang menghampiri Hui San, menaruh tangan di pundaknya, dan berkata:

“Kau siap?”

Hui San tersenyum.

Huang Ho mengarahkan posisi Hui San dengan perasaan kikuk dan rendah diri. Perlu beberapa lama sebelum akhirnya ia mendapatkan sudut pandang yang tepat, dengan Hui San yang berdiri dalam posisi mengagumkan. Dengan wajah menoleh ke sebelah kanan memandang langit. Dengan tangan kanan terangkat dan jari-jari terbuka seakan-akan sedang menyambut seseorang dari langit.

Huang Ho membuka kain penutup kanvas, menumpahkan warna-warna ke dalam mangkuk, mencelup kuas ke dalamnya dan siap menggores kanvas.

Tiba-tiba ia teringat sesuatu. Ia ingin melukis Hui San dalam posisi duduk seperti dalam mimpinya. Hui San akan dilukiskan sedang berkomunikasi dengan burung-burung dan alam.

Hui San mengikuti keinginan Huang Ho. Ia duduk dalam posisi yang mengagumkan; tangannya bersandar pada lutut dengan telapak tangan terbuka seperti hendak memberi makan burung-burung, sementara wajahnya menghadap ke langit, ke arah datangnya burung-burung.

Huang Ho senang dengan posisi itu karena sama persis seperti dalam mimpinya. Ia pun mulai melukis dengan hati-hati. Mula-mula membentuk sketsa wajah, lalu senyumnya, tangannya, dan yang lain. Garis-garisnya sempurna, tipis dan menyerupai Hui San.

Setelah beberapa lama ia berhenti sejenak, memandang lukisannya dari kejauhan. Ia merasa ada yang hilang dari lukisan ini. Senyumnya tidak sama seperti dalam mimpinya, bahkan sangat buruk.

“Aku tidak bisa … kau terlalu indah,” kata Huang Ho tanpa menoleh ke arah Hui San.

Hui San menangkap keputusasaan Huang Ho. Ia menghampiri Huang Ho, menggenggam jemari Huang Ho seolah ingin mengatakan: “Kau baik-baik saja. Kau pasti bisa melukis manusia hidup.” Ia kemudian mengarahkan tangan Huang Ho ke atas kanvas, menarik garis, dan membuat lingkaran kehidupan. “Tentu kau bisa,” bisiknya di telinga Huang Ho. “Lukisan ini akan menghapus semua lukisan kematian dan bayangan-bayangan kematian dalam pikiranmu.”

Huang Ho menoleh ke arah Hui San, memandangnya dengan penuh hormat. Mereka melukis seperti sepasang manusia yang sedang menari. Goresan-goresan kuas memberi gambaran wajah cerah Hui San.

Huang Ho memejamkan mata dan membiarkan Hui San membimbingnya. Di saat Huang Ho terbuai dalam bayangan keindahan, Hui San melepaskan pegangannya. Kuas itu terus menari hingga membentuk sebuah lukisan kasar.

Huang Ho terkejut saat membuka matanya dan mendapatkan sketsa yang diinginkannya. Sementara Hui San sudah duduk pada posisi semula yang mengagumkan, sedang berkomunikasi dengan burung-burung yang benar-benar ada di ruangan itu.

Huang Ho tinggal meneruskan, memberi warna, menambah tujuh burung di sekitar Hui San, melukis bunga-bunga taman dan beberapa pohon.

Akan tetapi, kalau kau berpikir bahwa kisah ini akan berakhir bahagia, maka kau salah!

Burung-burung dalam lukisan itu tidak menyanyikan lagu kehidupan. Burung-burung itu berwarna hitam, bertengger di pohon kering, sedangkan bunga-bunga di taman itu sudah kehilangan warnanya dan layu. Lukisan Hui San tidak lagi tersenyum, Huang Ho mengubahnya menjadi sebuah wajah suram dan tidak hidup. Bagaimana mungkin sebuah lukisan bisa hidup tanpa darah?

Burung kematian bernyanyi ..

Suaranya parau menyayat hati …

Tapi yang dicintai belum mati …

Huang Ho berjalan menghampiri …

Dari balik baju dia keluarkan belati …

Bukan takdir menghampiri kehidupan …

Baginya kehidupan merupakan kematian …

Bagaimana lukisan hidup tanpa darah …

O, Hui San terluka parah

Huang Ho menampung tetes demi tetes darah Hui San, setelah itu membawanya ke hadapan kanvas. Alur-alur darah mewarnai lukisan—lukisan kematian dibuat lagi. Ia menuliskan nama dan tanggalnya di atas kanvas dengan darah Hui San, dan menyebut lukisan itu sebagai titik pencapaian abadi. Ia memandangnya dengan penuh kepuasaan dan keputusasaan. Ia membersihkan belati dengan bajunya hingga tidak satu pun darah Hui San tertinggal, kemudian ia berjalan menuju cermin, membuka kain penutupnya, mencermati dirinya lalu tertawa dengan penuh kemenangan.

Tawanya berhenti, berganti rasa perih yang menjalar dari sayatan di tangannya seiring darah yang mengalir jatuh ke dalam mangkuk putih. Ia menjatuhkan belatinya, kemudian melangkah gontai menuju kanvas, lalu mencelup kuas ke dalam darahnya, dan mencampurnya dengan warna-warna cat. Ia bersumpah ini akan menjadi sebuah lukisan terakhirnya; sebuah potret diri. Ia memastikan lukisannya selesai bersamaan dengan berhentinya detak jantungnya. 

Kisahnya berakhir di sini.

Tidak ada lagi kisah Huang Ho setelah itu. Huang Ho masih meninggalkan hutang sebuah lukisan yang belum selesai. Tidak ada seorang pun yang menyelesaikannya hingga generasi berikutnya. Karena itu adalah lukisan diri Huang Ho. Karena Huang Ho melukis darah dengan darah.

Sungai panjang itu membunuh ribuan jiwa. Sejarah air mata berkepanjangan.

* *

Ali
Ali

Pria tampan nan ganteng ini tinggal di Bekasi

Leave a Reply

Your email address will not be published.