Huang Ho dan Lukisan Berdarah

  • Post Category:Fiksi
  • Post Author:
Huang Ho dan Lukisan Berdarah
Photo by Wouter de Jong from Pexels

Huang Ho adalah seorang pelukis dari desa kecil di Ninxia, menjadi idola bagi sebagian orang dan sekaligus dibenci bagi sebagian lainnya. Huang Ho, entah bagaimana ia dilahirkan, tiba-tiba saja sudah menjadi bagian dari legenda kelam Sungai Kuning. Ia melukis sesuatu yang berdarah, seperti kepala terpenggal atau tembakan di kepala. Ia tidak melukis hukuman gantung, suntikan mati atau kursi listrik. Itu karena tidak ada darah. Tidak ada darah berarti tidak ada kehidupan.

Kecelakaan bisa menjadi sumber inspirasi lain. Huang Ho pernah melukis sebuah kecelakaan bis yang membunuh tiga puluh penumpang. Seorang penumpang yang terjepit di antara casis bis dengan tusukan batang besi menembus dada menjadi fokus lukisan. Gubernur daerah menyukai lukisan ini.

“Ini akan menjadi lukisan penting!” kata Sang Gubernur dalam pidato duka cita itu. Ia memerintahkan polisi untuk melarang siapa saja mengubah tempat kejadian sebelum Huang Ho hadir dan melukisnya. Huang Ho membayarnya dengan lukisan mengagumkan. Huang Ho melukis darah dengan darah.

Pakar lukisan memuji alur-alur indah lekukan lukisannya. Huang Ho menyukai alur-alur darah.

Hanya orang-orang tertentu yang membeli lukisannya, kebanyakan pejabat negara, diktator dan orang-orang yang punya kuasa atas orang lain. Mereka berani membeli dengan harga tinggi. Tapi Huang Ho tidak menerima lukisan pesanan. Jika ada yang ingin lukisan diri, maka ia harus dalam posisi berdarah. Huang Ho menyukai lukisan harakiri.

Namun tidak selamanya Huang Ho melukis tentang kematian. Setidaknya setelah ia menemukan Buddha, ajaran tentang kasih sayang dan kelembutan.

Saat itu ia sedang memandang laut, imajinasinya mengarah pada kekejaman bajak laut dan akan menjadi lukisan hebat bila darah tumpah di atas kapal. Saat dimana bajak laut memenggal kepala saudagar, membunuh pengawal-pengawalnya dan melemparkannya ke dalam laut yang dipenuhi hiu.

“Laut memang indah bukan?” kata seorang pemuda. Suara lembutnya seperti kapas sehingga tidak mengejutkan Huang Ho sedikit pun. Ia seorang Biksu muda, mengenakan kemeja putih lengan panjang dan celana panjang putih. Kulitnya putih dan halus, alisnya seperti lukisan, bibirnya merah dan tipis seperti malaikat. Orang-orang mengenalnya dengan nama Hui San.

“Ya,” jawab Huang Ho masih memandang darah-darah yang bertebaran di laut.

“Laut itu hidup. Antara laut dan isinya dan apapun yang hidup darinya,” Hui San menepuk pundak Huang Ho. Huang Ho tersenyum, sebuah senyum palsu. Ia tahu kata-kata itu hanya untuk menyindir dirinya.

“Bukankah kehidupan itu indah?”

Sesaat suasana menjadi hening. Pandangan Huang Ho terpecah. Darah-darah di lautan memudar, lautan kembali menjadi biru berkilauan. Ia melihat apa yang Hui San lihat. Ia merasakan apa yang dirasakan Hui San. Ia merasa damai.

Tapi bagaimana mungkin?

Mungkinkah pemudah ini sedang menyihir dirinya?

Tidak.

Hui San hanya menyadarkan Huang Ho dari lamunan yang menyesatkan. Inilah kelebihan Hui San; memberikan pandangan yang sama pada orang lain sehingga yang tampak dalam pandangan adalah sesuatu yang indah.

Bukankah kehidupan itu indah?

Pertanyaan itu masih mengiang di telinga Huang Ho dan membuatnya termenung. “Ya, kehidupan memang indah,” jawab Huang Ho. Sebuah jawaban jujur.

Hui San memesona Huang Ho. Ia berkata bahwa orang baik akan bereinkarnasi menjadi apapun yang baik, dan sebaiknya Huang Ho percaya akan hal itu. Ia kemudian bercerita tentang Yin dan Yang, tentang keseimbangan alam dan cerita dewa-dewa yang memberi berkat pada orang-orang yang berbuat kebajikan.

Cerita-cerita Hui San jantung Huang Ho berdentum, menggetarkan nyalinya padahal sebelum itu ia tidak pernah takut pada kematian. Hui San telah membuatnya berpikir ulang dengan kegemarannya melukis kematian.

Apakah aku jahat? tanya Huang Ho dalam hati.

Sebetulnya tidak ada yang menganggap Huang Ho jahat. Ia tidak pernah membunuh ataupun menyakiti orang. Ia hanya seorang pelukis.

“Ijinkan aku belajar darimu,” kata Huang Ho. “Aku ingin tahu banyak tentang kehidupan.”

“Tentu.”

“Aku akan melukis kehidupan, tempat dimana manusia bernyanyi dalam bahagia. Itu pun jika kau mengajarkanku tentang kehidupan dan kebahagiaan.”

Mereka membuat janji bertemu di tempat yang sama besok hari.

Huang Ho seorang pelukis sejati. Ia mampu menerjemahkan kata-kata menjadi sebuah lukisan indah. Ia melukis tiap kata-kata Hui San dalam pikirannya. Hari demi hari, waktu berganti minggu dan ia pun dapat menemukan lukisan kehidupan. Ia melukis burung-burung bertebaran di langit dan anak-anak ayam berlarian. Kabar tentang dirinya melukis kehidupan mulai menjadi isu hangat. Ada yang senang dengan perubahan itu, tapi ada pula yang kecewa. Huang Ho tidak peduli karena ia terlanjur senang melukis tentang sesuatu yang hidup.

Akan tetapi, di balik kegembiraannya melukis kehidupan, ada kekecewaan yang datang. Huang ho belum bisa melukis wajah-wajah bahagia. Ia hanya sanggup melukis hewan-hewan, gunung-gunung, dan lautan padahal ia ingin sekali melukis orang-orang tertawa, ibu yang menyusui bayinya, petani menggarap sawah atau anak-anak bermain tanah. Ia pernah mencobanya beberapa kali. Suatu kali ia melukis potret seorang ayah yang menyambut kedatangan anak pertamanya. Awalnya ia melukis dengan baik. Garis-garisnya lentur dan warna-warnanya cerah. Ia tidak menyadari tangannya sedang mengubah senyum sang Ayah menjadi wajah yang suram. Sementara bayi yang diangkatnya tinggi-tinggi mempunyai bentuk aneh dengan buntut dan dua tanduk di kepala. Huang Ho marah pada dirinya sendiri dan membakar lukisan yang belum selesai itu. Ia merasa ada yang salah pada dirinya. Mungkin dirinya belum menjadi manusia baik.

Di suatu pagi di musim gugur saat alam menampakkan kedamaian dan kejujuran, Huang Ho pergi menemui Hui San di kuil. Ia melihat dari kejauhan Hui San sedang tenang berdoa. Semakin mendekat semakin jelas ketenangan di wajah Hui San. Ia memutuskan menunggunya hingga selesai.

Pengunjung kuil datang silih berganti, tapi Hui San tetap tidak bergerak. Wajahnya sebersih salju dan selembut hembusan-hembusan angin yang menerpa wajahnya. Huang Ho gelisah. Ia belum pernah melihat seseorang lebih tenang dari Hui San, dan ia tidak ingin kegelisahannya menjadi prasangka buruk.

“Aku melukis kehidupan,” kata Huang Ho.

Mereka duduk di batu besar di pinggir kolam. Hui San melempar makanan ke dalam kolam. Tidak berapa lama segerombolan ikan emas mengejar makanan itu. Hui San tersenyum melihat keharmonisan mereka.

“Aku melukis ikan-ikan dan burung-burung tapi aku belum sanggup melukis manusia hidup. Masa lalu seolah menggangguku. Kebahagiaan manusia akan rusak dalam lukisanku.”

Hui San seorang pendengar yang baik. Kesabarannya mendengar membuat kagum orang-orang. Sering Hui San menolong orang cukup dengan mendengar.

“Manusia dan hewan sama-sama mempunyai nyawa,” lanjut Huang Ho, “tapi hewan tidak punya jiwa seperti kaubilang.”

Hui San melempar lagi makanan ke kolam. Dari kantong lain ia mengeluarkan biji-bijian dan melemparkannya ke jalanan. Burung-burung menghampiri dan mematuknya hingga habis.

“Aku memutuskan untuk melukis seseorang yang telah memberiku arti kehidupan. Aku ingin melukis kau.” Huang Ho berharap dengan melukis Hui San akan menjadi awal yang baik dalam melukis manusia hidup yang bahagia.

Hui San tersenyum, ia berkata, “Jika itu akan memberimu kehidupan.” Kemudian ia memberi Huang Ho sebuah kantong makanan dan memintanya melemparkan makanan itu pada ikan-ikan dan burung-burung.

Cahaya matahari mulai redup, sisa-sisa sinarnya membentuk bayangan panjang dan bayangan-bayangan itu menyatu dengan malam. Lampu-lampu dinyalakan dan membentuk bayangan baru.

*

Di ruangan bercat putih ini Huang Ho akan melukis Hui San. Kain-kain putih menutup puluhan lukisan, kanvas, cermin, kursi, meja, biola, lemari kecil. Sinar matahari yang masuk melalui kaca seluas dua meter dirancang sedemikan rupa hingga memberi penerangan yang cukup.

Huang Ho mengenakan pakaian hitam. Ia selalu mengenakan pakaian hitam karena hitam bukanlah sesuatu yang buruk seperti yang orang lain bilang dan dia akan membuktikannya dengan melukis Hui San. Di sampingnya, Hui San berjalan mengelilingi ruangan dengan penuh keingintahuan tentang lukisan-lukisan yang tergantung di sekelilingnya. Ia berhenti di depan sebuah lukisan yang tertutup kain putih.

Tanpa melepas kain putihnya Huang Ho menduduki kursi d tengah ruangan, wajahnya menampakkan ketenangan, matanya memandang pada satu titik di hadapannya.

“Aku bermimpi tadi malam,” Huang Ho berkata. “Kau berada dalam mimpiku. Aku melukis dirimu. Kau begitu tenang dan bahagia. Itulah alasannya aku menciptakan putih di ruangan ini untuk lukisanmu …”

Hui San menyingkap kain penutup lukisan hingga setengahnya. Ia bisa mengenali benda itu sebagai lukisan kematian. Ia membuka lebih lebar lagi dan tampak seorang algojo menyandarkan kedua tangannya pada sebuah kapak besar. Algojo itu tersenyum setelah memenggal kepala seorang tahanan. Di ujung kiri bawah tertulis nama tempat, tanggal dan nama Huang Ho ditulis dengan darah.

Hui San menutup lukisan itu dan beralih ke lukisan lain.

“Dalam lukisan itu … kau begitu indah dan bahagia hingga aku tidak sanggup melanjutkan.”

Hui San berhenti di depan sebuah lukisan besar dan membuka kain penutupnya. Dalam lukisan itu dua prajurit menusuk jantung musuhnya dengan bayonet di bawah bayang-bayang pohon besar yang lebih menyerupai bayangan kematian. Prajurit yang terjatuh itu berhasil menusuk leher salah satun lawannya. Darah memancar dari lehernya disertai pekik kematian yang bisa didengar Hui San.

Hui San menutup lukisan itu. Ia tidak terganggu lukisan-lukisan kematian.

“Burung-burung bernyanyi, dan kau berada di taman sedang melempar biji-bijian”

Hui San berjalan menuju lukisan lain. Ia berhenti di depan sebuah lukisan seorang wanita muda dengan sebilah pisau yang tertancap di jantungnya. Wanita itu mencoba mencabutnya. Di sisi lain seorang pria sedang membuka pintu, garis cahaya yang masuk ke ruangan memberi warna penegasan kematian.

Tiba-tiba lukisan itu bergerak. Seorang pria yang tadi berdiri di depan pintu berjalan masuk mendekati si wanita muda yang sekarat. Pria itu mengangkat tubuh wanita itu dan memeluknya. Hui San dapat melihat kesedihan mendalam pada pria itu dan perasaan dendam yang memancar dari matanya. Pria itu memalingkan wajahnya kepada Hui San, menatapnya penuh amarah. Ia membaringkan wanita itu dengan hati-hati dan berjalan menuju Hui San. Tapi tidak … ia tidak menghampiri Hui San, melainkan mendekati Huang Ho dalam lukisan. Huang Ho terlihat lebih muda sedang melukis si wanita muda malang. Huang Ho mempunyai teknik kecepatan dalam menulis objek yang sedang sekarat, dan ia akan menyelesaikannya pada detik wanita muda itu mati!

Pria itu mengempas kanvas, menarik Huang Ho dan memukulnya hingga tersungkur. Huang Ho bangkit, ia mematahkan kuas dan dengan cepat menusukkan potongan kuas ke jantung pria itu. Pria itu mencoba mencabutnya, tapi kematian lebih cepat datang. Ia terjatuh dan terbaring di samping si wanita muda. Dan lukisan itu pun membeku.

Hui San menutup lukisan itu. Ia terpaku.

Huang Ho beranjak dari kursi dan datang menghampiri Hui San, lalu menaruh tangan di pundaknya. “Kau siap?”

Hui San menoleh padanya dan tersenyum. Ia melangkah beberapa meter ke depan kanvas. Ia belum pernah menjadi model lukisan sehingga tidak tahu apa yang harus dilakukannya.

Huang Ho mengarahkan posisi Hui San dengan perasaan kikuk dan rendah diri. Dan setelah memantapkan hati, ia mendapatkan sudut pandang yang indah. Hui San berdiri dalam posisi yang mengagumkan. Wajahnya berpaling ke sebelah kanan memandang langit. Tangan kanannya diangkat terbuka seperti sedang menyambut seseorang dari langit.

Huang Ho membuka kain penutup kanvas, menumpahkan warna-warna ke dalam mangkuk, mencelup kuas ke dalamnya dan siap menggores kanvas.

Tiba-tiba ia teringat sesuatu. Ia ingin melukis Hui San dalam posisi duduk seperti dalam mimpinya. Hui San akan dilukiskan sedang berkomunikasi dengan burung-burung dan alam.

Hui San mengikuti keinginan Huang Ho. Ia duduk dalam posisi yang mengagumkan. Tangannya bersandar pada lutut dengan telapak tangan terbuka seperti hendak memberi makan burung-burung, wajahnya menghadap ke langit, tempat di mana burung-burung datang.

Huang Ho senang dengan posisi itu persis seperti yang diinginkannya. Ia mulai melukis dengan hati-hati. Mula-mula membentuk sketsa wajah, lalu senyumnya. Garis-garisnya sempurna, tipis dan menyerupai Hui San.

Setelah beberapa lama ia berhenti sejenak, memandang lukisan dari kejauhan. Ia melihat ada sesuatu mengganjal di hatinya dan sepertinya ada yang hilang dari lukisan ini. Senyumnya tidak sama dengan yang ia inginkan, bahkan lebih buruk. Ia tertunduk sedih dan memutuskan untuk berhenti.

“Aku tidak bisa … kau terlalu indah,” kata Huang Ho tanpa menoleh ke arah Hui San.

Hui San menangkap keputusasaan muridnya. Ia menghampiri Huang Ho, lalu menggenggam jemari Huang Ho seolah ingin mengatakan ‘Kau baik-baik saja. Kau bisa melukis manusia hidup.’

Kemudian Hui San mengarahkan tangan Huang Ho ke atas kanvas, menarik garis dan membuat lingkaran kehidupan.

“Tentu kau bisa,” Hui San membisik di telinga Huang Ho. “Lukisan ini akan menghapus semua lukisan kematian dan bayangan-bayangan kematian dalam pikiranmu.”

Huang Ho menoleh ke arah Hui San, menatapnya penuh hormat. Mereka melukis seperti sepasang manusia yang sedang menari. Goresan-goresan kuas memberi gambaran wajah cerah Hui San.

Huang Ho memejamkan mata dan membiarkan Hui San membimbingnya. Di saat Huang Ho terbuai dalam bayangan keindahan, perlahan Hui San melepaskan pegangannya. Kuas itu terus menari hingga membentuk sebuah lukisan kasar.

Huang Ho terkejut saat membuka matanya. Ia mendapatkan sketsa yang diingikannya. Ia juga melihat Hui San sudah duduk pada posisi semula, mengagumkan dan sedang berkomunikasi dengan burung-burung yang kini benar-benar ada di ruangan itu.

Huang Ho tinggal meneruskan, memberi warna, menambah tujuh burung di sekitar Hui San, melukis bunga-bunga taman dan beberapa pohon. Semuanya akan nampak indah jika sempurna.

Namaun jika kau pun berpikir bahwa kisah ini akan berakhir bahagia, kemudian Huang Ho menjadi ahli pelukis kehidupan dan memberi kehidupan bagi orang-orang yang menikmati lukisannya, maka kau salah!

Burung-burung dalam lukisan itu tidak menyanyikan lagu kehidupan. Burung-burung itu berwarna hitam yang bertengger di pohon kering. Sedangkan bunga-bunga di taman itu sudah kehilangan warnanya dan layu. Lukisan Hui San tidak lagi tersenyum, Huang Ho mengubahnya menjadi sebuah wajah suram dan tidak hidup. Bagaimana sebuah lukisan bisa hidup tanpa darah?

Burung kematian bernyanyi ..

Suaranya parau menyayat hati …

Tapi yang dicintai belum mati …

Huang Ho berjalan menghampiri …

Dari balik baju dia keluarkan belati …

Bukan takdir menghampiri kehidupan …

Baginya kehidupan merupakan kematian …

Bagaimana lukisan hidup tanpa darah …

O, Hui San terluka parah

Huang Ho menampung tetes demi tetes darah Hui San dan membawanya ke hadapan kanvas. Alur-alur darah mewarnai lukisan dan lukisan kematian dibuat lagi. Ia menuliskan namanya di atas kanvas dengan darah Hui San dan menyebut lukisan itu sebagai titik pencapaian abadi. Ia memandangnya dengan penuh kepuasaan dan keputusasaan. Kemudian ia bersihkan belati dengan bajunya hingga tidak satu pun darah Hui San tertinggal. Setelah itu ia berjalan menuju cermin, membuka kain penutupnya, mencermati dirinya dan tertawa dengan penuh kemenangan. Dan ia punya caranya sendiri untuk mengakhiri kisah ini.

Huang Ho menghentikan tawanya, lalu terdiam menahan sakit sesaat setelah menggores urat nadinya sendiri. Ia menjatuhkan belatinya. Suara denting memecah keheningan. Nafasnya semakin cepat, tangan kirinya dikepal kuat-kuat sehingga darah bertambah kuat mengalir keluar dari lengannya hingga ke telapak tangannya dan jatuh ke dalam mangkuk putih. 

Huang Ho memandang dirinya di cermin dengan senyum yang dipaksakan. Ia berjalan gontai menuju kanvas. Ia mencelup kuas ke dalam darahnya, mencampurnya dengan warna-warna cat dan bersumpah ini akan menjadi sebuah lukisan terakhirnya. Sebuah potret diri. Ia memastikan lukisannya selesai bersamaan dengan berhentinya detak jantungnya. 

Kisahnya berakhir di sini.

Tidak ada lagi kisah Huang Ho setelah itu. Huang Ho masih meninggalkan hutang sebuah lukisan yang belum selesai. Tidak ada seorang pun yang mau menyelesaikannya hingga generasi berikutnya. Karena itu adalah lukisan diri Huang Ho. Karena Huang Ho melukis darah dengan darah.

Huang He, sungai panjang itu membunuh ribuan jiwa. Sejarah air mata berkepanjangan.

* *

Ali

Pria tampan nan ganteng ini tinggal di Bekasi

Leave a Reply