Hobnail (Sepatu Bot)

5
(1)

Oleh Crystal Arbogast

Fannie Poteet duduk bersila di teras depan rumah Paman John, tangannya memeluk boneka kesayangan. Sinar matahari sore bersinar menembus dedaunan pohon oak besar, menyusup ke dalam kabin. Cahayanya yang keemasan membuat Fannie terpukau, seolah terhipnotis, wajahnya diarahkan ke atas. Suara-suara obrolan terdengar dari dalam kabin.

“Ellen, aku senang kau bisa ke gereja bersama kami hari ini. Kenapa tidak menginap saja sekalian? Hari sudah sore dan sebentar lagi gelap.”

“Tidak apa-apa, Sally,” jawab ibunya Fannie. “Kautahu kan kebiasaan Lige. Meski aku sudah memasak untuknya dan anak-anak, tapi ia tetap ingin kami ikut makan malam.”

Suara tawa membangunkan lamunan gadis kecil itu. Fannie berdiri, menarik gaunnya dan melangkah ke dalam.

“Ambil syalmu, Fannie. Nanti kau kedinginan.”

Ketika gadis kecil itu melangkah ke kursi dengan perapian untuk mengambil syalnya, pamannya datang dari belakang sambil membawa lentera.

“Kau pasti butuh ini, Ellen. Sumbunya baru, dan aku baru mengisi minyaknya.”

“Terima kasih, Johnny,” kata Ellen. “Nanti kuminta Lige untuk mengembalikannya saat ia pergi ke kota minggu depan.”

Ellen mencium adik bungsunya dan memeluk Sally dengan lembut.  Sambil mengusap perut adik iparnya yang sedang mengandung, dia berkata, “Aku akan kembali akhir bulan. Jangan mengangkat yang berat-berat. Kalau rasa mual mengganggumu, seduh sedikit teh mint yang kutaruh di dapur. Tuhan tahu, aku belum pernah melihat bayi yang terus-terusan membuat ibunya mual seperti ini. Pastinya bayimu laki-laki.”

Mendengarnya, Fannie merengut. Dia anak bungsu dalam keluarga, dan satu-satunya anak perempuan. Karena tinggal bersama empat saudara laki-lakinya, dia berdoa pada Tuhan setiap malam supaya bibinya melahirkan anak perempuan. Selama ini, satu-satunya teman bermainnya hanya boneka yang dibuat ibunya. Sambil mengapit boneka dengan tangan kiri yang juga memegang syalnya, Fannie menunggu dengan sabar. Bibi Sally mencium dan mencubit pipinya dengan lembut. “Kalau nanti yang lahir anak perempuan, aku berharap dia semanis dirimu,” bisik bibinya. Paman John mengusap kepalanya dan berkata, “Dadah, Sayang. Kalau kucingnya lahir nanti, Paman akan berikan kamu anak kucing yang paling cantik.”

Fannie tersenyum dan pikiran tentang anak laki-laki pun menghilang.

Ellen mengikat syalnya, melempar masing-masing ujungnya atas ke bahu, lalu mengambil lentera yang sudah menyala dan menggandeng tangan kanan Fannie. Mereka harus menempuh tiga mil untuk sampai ke rumah, hujan lebat sepanjang minggu kemarin meninggalkan lumpur yang sulit dilalui. Ellen dan putrinya akan melalui jalan yang sama saat pergi, lewat jalur kereta. Jalur tersebut terletak satu setengah mil di atas jalan, melewati jalan berliku di sekitar pegunungan, lembah berbatu dan hutan yang tumbuh dari tanah yang subur. Begitu sampai di jalur tersebut, mereka hanya tinggal berjalan lurus langsung menuju rumah. Gadis kecil itu senang mendengar ibunya bercerita tentang kota nun jauh di sana. Dia pernah pergi ke kota beberapa kali dan tidak pernah keluar dari Wise County. Fannie mengingat Ayahnya bicara tentang pamannya yang bernama Jack.

Paman Jack meninggalkan desa dan juga Virginia. Ia berada di tempat yang sangat jauh bernama Kuba, berperang untuk Roosevelt. Dia mengira-ngira seperti apa Kuba itu, apakah sama seperti di desanya?

Sinar matahari tenggelam di balik pepohonan pegunungan, membentuk bayang-bayang di sepanjang jalur kereta. Suara dari semak-semak membuat Fannie terkejut, tapi ibunya mencoba menenangkannya.

“Jangan takut. Itu cuma rubah dan tupai.”

Teriakan burung hantu menyeruak dari kegelapan, Fannie mengencangkan pegangan pada tangan ibunya.

Akhirnya, malam pun menyelimuti bumi, satu-satunya yang bisa dilihat adalah cahaya hangat dari lentera dan bayang-bayang yang dibentuknya. Tidak ada bulan, bintang bersinar redup dari balik awan. Fannie tersandung bebatuan rel kereta, Ellen menyadari bahwa putrinya sudah kelelahan.

“Kita istirahat dulu, Anakku. Biar kutebak, rumah kita tinggal satu mil lagi.”

Ellen meletakkan lenteranya lalu mereka mencari tempat yang nyaman untuk duduk di atas rel.

“Momi, aku takut gelap. Akankah Tuhan sedang mengawasi dan melindungi kita?”

“Ya, Fannie. Ingat apa yang Pak Pendeta katakan di gereja hari ini. Tuhan bersama kita, dan ketika membutuh-Nya, maka sebutlah nama-Nya. Kalau mau yang lebih baik lagi, kau bisa melakukan apa yang biasa kulakukan.

“Apa itu, Momi?”

Ellen mengusap rambut putrinya dan berkata, “Aku menyanyikan lagu kesukaanku.”

Saat merenungkan ucapan ibunya, Fannie dikejutkan oleh sebuah suara. Suara tersebut berasal dari arah datangnya mereka, mata Fannie menyusuri tempat yang gelap. Suaranya pelan, tapi tidak seperti suara yang pernah didengarnya. Lebih seperti langkah seseorang yang sedang berjalan mendekati mereka.

“Momi, kau mendengarnya?”

“Mendengar apa, Anakku?”

Fannie merapat pada ibunya dan berkata, “Seseorang berjalan mendekati kita.”

Ellen memberikan pelukan hangat untuk putrinya dan menjawab, “Mungkin hanya khayalanmu saja, Fannie. Kita sudah cukup beristirahat. Ayo kita lanjut. Ayahmu pasti sedang cemas.”

Ellen mengambil lentera, menggandeng tangan Fannie dan melanjutkan perjalanan mereka. Sebentar kemudian, suara yang membuat gadis kecil itu ketakutan muncul lagi. Kali ini terdengar semakin mendekat. Suara langkah berat sepatu bot bergema di kegelapan.

“Momi, aku mendengarnya lagi!”

“Ssst, jangan bersuara.”

Lalu, Ellen menganyunkan lenteranya ke sekeliling.

“Lihat, tidak ada apa-apa kan di sana.”

Fannie menguatkan pegangan tangannya pada tangan ibunya dan mendekap bonekanya kuat-kuat. Suara burung hantu terdengar dari kejauhan, angin malam meniup dedaunan membuat bunyi bergemerisik.

“Rasanya seperti bau hujan,” Ellen berkata. “Angin juga berhembus kencang. Kita akan tiba di rumah segera, Anakku. Di sana, tepat di belokan terakhir.”

Fannie merasa lebih nyaman mendengar suara ibunya, tapi di dalam kegelapan di belakang mereka, langkah itu terdengar lebih kencang. Suara sepatu bot itu.

“Momi, suaranya semakin dekat!”

Ellen mengayunkan lenteranya lagi, “Anakku, tidak ada apa-apa di luar sana. Bagaimana kalau kita bernyanyi. Lagu Precious Lord.”

Fannie mengikuti ibunya, tapi suaranya bergetar karena mendengar suara langkat tersebut semakin mendekat. Dia tidak mengerti kenapa ibunya seolah tidak mendengar suara tersebut.

Ellen bernyanyi semakin keras, di depan sana sinar lampu rumah mereka berkedip-kedip di antara pepohonan. Terdengar suara anjing menggongong di kejauhan dan mereka pun berhenti bernyanyi.

“Lihat, kita hampir sampai. Tinker akan berlari menyambut kita. Ah, Si Tua Tinker yang pemberani. Dia pernah mengejar macan gunung sebelumnya. Dia akan membawa kita selamat sampai ke rumah.”

 “Kalau begitu, ayo lebih cepat, Momi. Tidakkah kau mendengarnya? Langkah itu semakin dekat dan aku takut. Ayo kita lari!”

“Baiklah, Nak. Tapi lihat, sudah kubilang tidak ada apa-apa di sana.”

Ellen menyapukan lenteranya lagi, lalu berteriak, “Kemari Tinker! Kemarilah!”

Anjing itu berlari mendekati mereka. Keduanya hampir saja bertabrakan saat menuruni jalan menuju rumah.

“Ellen, itukah kau?”

Fannie begitu senang mendengar suara ayahnya dari dalam kegelapan.

“Ya Lige. Maafkan kami pulang terlambat. Aku takut kalau berjalan lebih cepat, Fannie akan kelelahan.

Elijah mengangkat putrinya dan menggendongnya sampai ke rumah. Di dalam rumah, Ellen membantu Fannie melepas pakaian dan membawanya tidur.

Sayup-sayup terdengar obrolan kedua orang tuanya di dapur. Suara dengkuran kakaknya membuatnya tersenyum dan bersyukur karena dia dan ibunya selamat sampai di rumah. Sebelum memejamkan matanya, dia mendengar suara ibunya.

“Lige, aku mendengar suara langkah kaki. Aku tidak ingin anak kita ketakutan. Jadi, aku terus bernyanyi sambil mengayunkan lentera keseliling, lalu mengatakan pada anak kita bahwa tidak ada yang perlu ditakutkan. Tapi Lige, … sesaat sebelum keluar dari jalur kereta, aku mengayunkan lentara untuk yang terakhir kali. Saat itulah aku melihat siapa yang mengikuti kami. Aku melihat sesosok laki-laki. Laki-laki tanpa kepala!”

* *

RATING

Thanks for voting!

Komentar