Hari Ketika Ibu Tersenyum

0
(0)

Aku tahu cepat atau lambat hal ini akan terjadi pada anak gadisnya meski ini bukanlah satu-satunya keputusan berani yang penah kubuat. Belakangan ini, aku memang sering mengecewakan Ibu dengan melanggar aturannya. Kami selalu berdebat di meja makan untuk hal-hal sepele dan tidak jarang berakhir dengan kekesalanku mengurung diri di kamar selama berjam-jam. Setelah itu, tidak pernah ada ketukan pintu dari Ibu seperti yang selalu kuharapkan, kecuali ceramah lain dari Ibu di meja makan.

Ibu menyendok nasi goreng buatanku, mengunyahnya perlahan seolah sedang meresapi bumbunya. Dia terdiam sebentar, lalu mengambil segelas air dan sedikit meminumnya. Tidak tampak wajah kecewa, hanya sedikit suasana yang menegangkan. Aku, yang berdiri di samping Ibu, menunggunya mengucapkan sesuatu dengan perasaan tidak menentu. Namun, Ibu lebih memilih diam dan memandang ke luar jendela.

Hujan yang turun sejak subuh menambah dingin suasana. Aku memejamkan mata cukup lama, sekedar untuk membayangkan tempat-tempat yang menyenangkan. Jarum jam di dinding bergerak sangat lambat hanya untuk dua menit yang baru saja kulewati. Aku ragu bisa membahagiakan Ibu di Hari Ibu.

Ayah datang dari ruang tengah dan menemukan kami dalam kekakuan. Sebenarnya Ayah tahu apa yang terjadi, tapi baginya, masalah perempuan hanya bisa diselesaikan oleh perempuan. Meski begitu, Ayah selalu ingin tahu bagaimana kami melalui saat-saat menegangkan itu. Ayah mengambil kursi yang agak jauh dari kami lalu membuat gerakan tangan mengunci mulut.

“Duduklah,” Ibu berkata padaku. Suaranya terdengar lembut, suara yang lama kurindukan. Aku menarik kursi dan duduk di hadapannya. “Belakangan ini Ibu mencoba memahami pilihanmu dan Ibu minta maaf karena terlalu egois memaksakan kehendak Ibu,” lanjutnya sambil menatapku dalam-dalam.

“Tidak, Bu,” kataku. “Aku yang seharusnya minta maaf.”

Ibu menggeleng kepala sebagai tanda bahwa aku bukanlah di pihak yang bersalah. Kemudian Ibu memegang tanganku di atas meja, dan aku pun merasakan kehangatan.

“Ibu tahu kamu sudah berusaha keras mengikuti keinginan Ibu. Tapi setelah apa yang kamu lalui selama dua hari ini, kurasa kamu berhak mendapatkannya.”

Aku menanti keputusan Ibu dan menghormatinya, apapun itu. Ibu menghela nafas panjang, lalu melihat Ayah.

“Ibu harus mengakui kemampuanmu, Nak. Bumbu yang kauracik sangat pas. Bawang goreng kau potong lebih besar dan kering sebagai penyeimbang rasa. Kamu membuat pilihan apakah dipadu dengan daging kambing, ayam, atau tuna. Tuna? Siapa sangka paduan tuna dan bumbu pedasmu bisa menyatu.”

Ibu tersenyum dan menjulurkan kedua tangannya. Aku menyambutnya dengan kebahagiaan yang berakhir dalam pelukan Ibu.

Ibuku sudah menjalankan kafenya selama dua puluh tiga tahun. Di usianya yang menginjak lima puluh tahun Nopember lalu, Ibu memutuskan untuk menyerahkan bisnisnya pada salah satu dari ketiga anaknya. Ketika kedua kakak laki-lakiku lebih memilih mengejar karir masing-masing – kakak pertamaku sukses menjadi dokter, sedangkan kakak keduaku mengikuti jejak Ayah sebagai kontraktor – aku terpaksa menerima tawaran Ibu. Selama berminggu-minggu Ibu mengajariku memasak dan meracik kopi.

Awalnya, didikan Ibu yang keras membuatku tidak betah. Aku pernah pergi dari rumah dan menginap di rumah teman selama dua hari demi menghindari perintah Ibu. Kupikir Ibu akan berpikir ulang dengan sikapku yang cuek, tapi Ibu tetap tidak berubah saat aku pulang. Sampai di suatu malam cara pandangku terhadap ibu berubah ketika Ayah menceritakan perjuangan Ibu membangun kafenya. Kafe itu seperti anak pertama ibumu, demikian Ayah berkata. Kafe itu juga yang menjadi sumber penghasilan ketika bisnis Ayah di ambang kebangkrutan. Kafe itu juga yang membiayai kuliah kedokteran kakakku.

Keesokan paginya, dengan langkah berat aku mengikuti kelas masak Ibu. Aku mengikutinya lagi lusanya dan hari setelah itu. Terkadang aku melakukan improv, seperti memasak yang efisien, tapi tetap mempertahankan rasa. Alih-alih dipuji, cara memasakku itu mendapat cibiran dari Ibu. Namun, semua itu sudah kulalui dan aku tidak peduli lagi tentang cara masakku atau racikan tambahan yang kudapat dari YouTube. Kini, yang kupedulikan hanya membuat Ibu tersenyum.

* *

RATING

Thanks for voting!

Komentar