Han Ji Pyeong, Si Anak Baik

Tapi ... uang itu kan hasil jerih payahnya selama ini.

Han Ji Pyeong baru saja memenangkan juara lomba investasi virtual.

Hadiahnya?

100 juta won uang virtual!

Tapi, apa yang bisa dibeli dari 100 juta won uang virtual?

Ia bahkan tidak bisa membeli sebuah corn dog.

Sebenarnya ia punya 2 juta won di dalam amplop ketika meninggalkan panti asuhan. Uang itu akan digunakan untuk menyewa tempat tinggal. Mungkin hanya sebuah kamar kecil. Yang penting ia bisa mendapatkan kehangatan di awal musim hujan. Sayangnya, tidak ada mau menyewakan tanpa uang deposit. Setidaknya untuk sebuah kamar kecil ia harus mengeluarkan 2 juta won untuk deposit dan 150 ribu won untuk uang sewanya.

Hujan turun, hari mulai gelap. Ji Pyeong beruntung menemukan iklan sewa rumah murah dengan deposit yang sangat murah yang ditempel di tiang listrik. Hanya 200 ribu won depostinya. Tapi bisakah dipercaya?

“Itu pasti penipuan,” kata seseorang dengan mantel hujan, mengagetkannya. Agak sulit mengenali orang itu, tapi Ji Pyeon yakin wanita itu si nenek pemilik warung corn dog.

Nenek itu benar. Mana ada sewa rumah dengan harga murah. Kalaupun ada, pastinya biaya pemeliharaannya tinggi.

Tapi ternyata ada.

Nenek menawarkan tempat tinggal di lantai atas rumahnya.

Tapi Han Ji Pyeong jual mahal. Ia berbohong kalau ia sudah punya tempat tinggal. Ia bahkan tetap menolak tawaran tersebut meskipun nenek tidak mengutip biaya.

Nenek tahu, anak itu sebatang kara dan tidak punya tempat tinggal. Tapi dia tidak bisa memaksa. Anak itu memang keras kepala. Karena itu nenek pun memberikan pilihan. Kalau mau menginap, tinggal ambil kuncinya di sangkar burung di pohon sakura, begitu kata nenek meninggalkan Ji Pyeong.

Hujan bertambah deras, malam pun semakin larut. Han Ji Pyeong diam-diam menerima tawaran nenek. Setelah mengambil kunci di sangkar burung, ia mendapatkan sebuah kamar yang nyaman …. dan dua buah corn dog lengkap dengan sebotol saus dan mayonaise. Nikmatnya.

Tapi ada satu hal di kamar itu yang menarik perhatian Ji Pyeong: kaleng penuh uang!

Uang dalam kaleng itu sesuatu yang dilupakan nenek saat menyiapkan kamar untuk anak itu. Dia seharusnya menyimpannya di tempat aman. Uang tersebut seharusnya ditabung di bank. Nenek baru ingat paginya. Dia curiga, jangan-jangan anak itu sudah mengambilnya dan kabur? Tapi dia mencoba berpikir positif, barangkali anak itu lebih membutuhkannya. Lagipula dia juga masih bisa cari uang lagi.

Tapi … uang itu kan hasil jerih payahnya selama ini.

Nenek buru-buru berlari menuju kamar anak itu dan menemukan kaleng itu di rak kayu. Dia bersyukur uangnya masih utuh. Tidak ada yang hilang sepeser pun. Dia menyesal sudah mencurigai anak itu. Berkali-kali dia minta maaf kepada Tuhan.

“Harusnya kau minta maaf padaku,” ujar Han Ji Pyeong yang tiba-tiba muncul di belakangnya. “Aku bisa saja bawa kabar uang itu,” lanjutnya, mengambil tas. “Kau seharusnya menyimpannya di bank.”

Nenek memang seharusnya menyimpan uangnya di bank. Tapi dia terlalu tua untuk berurusan dengan bank yang menurutnya cukup ribet. Dia terkesan dengan sifat baik anak itu meskipun ia keras kepala dan gengsian. Sejak saat itulah nenek memanggil Han Ji Pyeong dengan panggilan ‘Anak Baik”.

Si anak baik itu membantu nenek membuatkan rekening di Bank. Si anak baik itu juga yang menulis surat untuk cucunya, Seo Dal Mi, dengan nama samaran, dan dengan sangkar burung di pohon sakura sebagai pos suratnya.

* *

Default image
Ali
Pria tampan nan ganteng ini (masih) tinggal di Bekasi

Komentar