Filly

Filly putriku, satu-satunya alasan mengapa aku tetap bertahan hingga kini. Tuhan selalu memberi yang selalu terbaik bagiku, dan bagiku, Filly adalah yang terbaik.

“Mama besok beliin Filly boneka Barbie ya?” Filly menanyakan lagi saat aku akan berangkat kerja. Dia sangat menantikan boneka Barbie yang sudah disiapkan namanya. Dia ingin memberi nama yang sama dengan namanya.

“Iya, Filly, nanti mama beliin,” jawabku, dan seperti itulah jawabanku nantinya jika dia meminta lagi.

Bis yang membawaku berjalan lambat meskipun sore itu tidak terlalu macet. Angin mengalir lembut di rambutku, udara terasa dingin dan mendung. Suara klakson membangunkanku dari lamunan, sekedar mengingatkan untuk melihat ke arah toko yang menjual boneka di toko pinggir jalan.

Di usianya yang ketiga Filly sudah bisa bicara banyak. Dia juga pandai bernyanyi dan menari. Dia  selalu menunjukannya padaku di waktu santai. Aku bertepuk tangan untuknya sambil berkata dalam hati bahwa putriku sangat berbakat.

Bis berhenti. Kakiku masih terasa berat untuk melangkah menuju Filly, bahkan terlalu malas untuk berjalan melewati sekumpulan wanita tetanggaku.

“Mama,” aku mendengar Filly memanggil. Dia berlari mendatangiku dan menarik tanganku menuju mini market. Dia memilih-milih es krim kesukaannya dan setelah itu menunjukkan es krim stroberi padaku.

Aku berjongkok, mengusap kepalanya dan memandang wajahnya dalam-dalam. “Filly jangan makan es krim dulu ya. Sekarang lagi musim hujan, nanti Filly bisa sakit,”  begitulah kataku, atau lebih tepatnya menunjukkan ketidakmampuanku membelikannya es krim. Tidak ada lagi gaji tersisa buat bulan ini. Untuk biaya harian, aku memastikan akan menjual kalung emas pemberian almarhum suamiku.

Filly memandang es krim di tangannya, lalu dengan berat hati dia memberikannya padaku. Untuk kesekian kalinya aku tidak berhasil membahagiakannya. Aku mengembalikan es krim itu ke dalam lemari pendingin, berharap Filly tidak menangis.

“Ma,” Filly tiba-tiba memanggilku.  “Filly-kan sudah besar. Filly nggak usah jajan lagi. Lebih baik uangnya ditabung buat sekolah Filly nanti.”

O, aku merasa sedang mendengar doa yang terjawab. Filly memandangku dengan mata besarnya seolah memahami cara membuatku bahagia. Air mataku jatuh begitu saja melihatnya tersenyum. Aku memeluk Filly tanpa memedulikan penjaga toko yang sedang memandangi kami.

* *

Komentar