Di Balik Jeruji

Seharusnya ada dua sipir yang menjaga blok itu, tetapi yang satu sudah tiga hari absen. Katanya sakit cacar. Tinggallah di situ satu sipir, yang bekerja shift ganda. Tidak seperti sipir kebanyakan yang berwajah bengis, Sipir Martin berwajah sejuk dan menenangkan.

Hari itu, seorang bocah laki-laki baru saja tiba, laga-laganya seperti jagoan, tetapi mewek begitu memegang jeruji penjara.

“Xavier … Xavier … berhentilah menangis,” ujar pria bertubuh tegap itu. “Apa kau mau menghabiskan hari-harimu dengan menangis, Xavier?”

Makan siangnya dilewatkannya dan ia hanya minum beberapa teguk air sepanjang hari. Dipikirnya makanan penjara hambar, yang dimasak tanpa garam, sekedar pengenyang perut. Seharusnya ia makan saja tadi siang, sekarang jari-jari tangannya jadi gemetaran.

“Xavier, makanlah. Tubuhmu perlu tenaga. Makanan di sini tidak seburuk yang kaukira. Makanlah, Xavier.”

Xavier menyerah. Disentuhnya mangkuk baja itu pelan-pelan, masih hangat, kemudian dibauinya bubur yang terlihat hambar itu, disendoknya sejumput dan dicicipinya. Lidahnya hampir tidak merasakan apa-apa, tetapi perutnya mengucapkan terima kasih. Lalu, dimakannya buburnya pelan-pelan sampai habis. Sendawanya hampir-hampir tidak terdengar setelah diminumnya seteguk air.

“Xavier … Xavier, sekarang kau sudah kenyang. Jangan lagi kau bersedih.”

Lima bulan lalu ada unjuk rasa di pusat kota. Ribuan orang tumpah ruah di jalanan. Xavier ada di sana, jauh di belakang menyaksikan ayahnya berpidato dengan suara yang berapi-api. Xavier tahu apa yang diperjuangkan mereka. Sudah satu jam ribuan orang duduk-duduk di jalan, bertepuk tangan, mengepalkan tangan ke udara, meneriakkan kata-kata bersemangat.

Ini unjuk rasa sudah yang kesekian kalinya, sebelum-sebelumnya tidak pernah ada kerusuhan. Baru kali ini ada tabung gas air mata yang ditembakkan, yang jatuh ditengah-tengah pengunjuk rasa. Seorang polisi muda yang menembaknya, dengan sengaja. Tabung gas air mata itu dilempar balik oleh seorang pengunjuk rasa dan jatuh di depan barisan polisi. Dari situlah awalnya kerusuhan terjadi. Belasan tabung gas air mata menyusul kemudian. Ribuan pengunjuk rasa berhamburan, menutup hidung dengan kain dan membasuh wajah dengan air minum. Xavier yang tadinya hanya menyaksikan turut dikejar-kejar polisi. Tapi, bukan karena itu ia bisa sampai di tempat itu.

“Xavier malang. Kau masih sangat muda, tapi sudah merasakan tempat terkutuk ini. Kasihan kau Xavier.”

Tidak ada jam dinding di sel penjara itu. Tidak ada jendela atau atap celah untuk melihat tanda-tanda hari sudah gelap.

“Xavier … Xavier, tidurlah. Besok hari yang berat. Setiap hari sangat berat di sini. Penjara bukan tempat berdiam diri seperti kau kira. Hingga saatnya tiba, semua orang punya jadwalnya masing-masing. Aku tidak bisa menemanimu terus-terusan. Istirahatlah, Xavier.”

Tepat jam sembilan, seluruh lampu sel dimatikan dan hanya menyisakan lampu lorong yang dibiarkan menyala. Xavier mendekat ke jeruji besi, memegangnya. Begitu dingin.

Terdengar bunyi langkah sepatu, sebentar kemudian pintu terbuka dan muncul seorang pria berbadan tegap lain yang berjalan disertai bunyi gemerincing berasal dari kunci-kunci yang tergantung di ikat pinggangnya.

“Pulanglah, Xavier,” pria itu berkata. “Kau sudah bekerja baik hari ini. Besok datang jam 8. Jangan telat.” Setelah mengatakan itu, ia pun melangkah pergi.

Xavier memandangi pria itu hingga menghilang di balik pintu. Ia mengaguminya. Kalau bukan karenanya, hampir mustahil ia bisa mengunjungi ayahnya di penjara sebebas ini.

Sudah tiga bulan ia tidak bertemu ayahnya. Ibunya pernah menengoknya, itu pun baru sekali dengan prosedur yang rumit. Ia ingat saat pertama kali datang ke penjara untuk menengok ayahnya beberapa waktu lalu. Petugasnya berkata, “Penjara bukan tempat anak kecil!” Ia datang lagi seminggu kemudian dan diusir lagi. Petugas yang sama yang pernah mengusirnya berkata, “Tidak ada nama Guiterrez di sini. Coba cari di Penjara Daerah.” Minggu depannya ia datang lagi dan lagi-lagi diusir. Petugas yang sama yang pernah menolaknya berkata, “Tidak ada kunjungan hari ini!” Sebulan kemudian ia datang lagi, tetapi kali ini ia tidak mendaftar sebagai pengunjung tahanan. Petugas yang pernah mengusirnya berkata, “Pendaftaran tukang bersih-bersih ada di lobi selatan.”

Begitulah kronologisnya sampai akhirnya ia menemukan cara bertemu ayahnya. Ia mendapati informasi lowongan kerja tersebut dari istri teman ayahnya saat mengunjungi suaminya, yang kaukenal sebagai Sipir Martin. Prosesnya seharusnya sulit karena ia masih belum cukup umur, tetapi Sipir Martin membantu meloloskannya. Dengan gaya yang menyakinkan, ia mengatakan kepada petugas yang mewawancarainya, bahwa ia seorang pekerja keras yang bisa dibayar murah.

Sudah jam 9.15. Lima belas menit lagi bis terakhir menuju desanya datang. Dipandanginya sosok pria berbadan tegap di balik jeruji itu. Pria di balik jeruji menampakkan wajahnya dari dalam gelap.

“Xavier, Anakku,” kata pria itu, “sampaikan salamku untuk ibumu. Katakan padanya, ayahmu baik-baik saja.”

**

Komentar