Online

Aku mengenalnya lewat Tinder. Dari dua puluh tiga perempuan yang match denganku, dia satu dari tiga perempuan yang mau mengobrol tentang buku. Dan diantara ketiganya, hanya dia yang bertanya tentang karya Karl May.

“Jadi, kau baca Winnetou?” tanyanya.

“Iya,” jawabku. “Juga Kara Ben Nemsi.”

Aku memang mencantumkan Karl May sebagai penulis favoritku di profil Tinderku, bersama Annie Proulx dan Jhumpa Lahiri. Kami kemudian sedikit mengobrol tentang Winnetou dan dilanjut obrolan buku lainnya. Aku tidak menyangka, di pertemanan kami yang belum satu hari, dia sudah meminta nomor teleponku.

“Boleh lanjut di telepon?”

Aku memberikan nomorku. Kemudian, tidak berapa lama setelah itu, dia menelponku.

“Suka Jazz juga?” tanyanya.

Aku juga mencantumkan hobiku mendengarkan Jazz dan nonton film di profil Tinderku. “Baru saja nonton festivalnya Sabtu kemarin.”

Lalu dia menanyakan band favoritnya. Kujawab, Earth, Wind and Fire memukau seperti biasa, memainkan lagu-lagu lama dan beberapa lagu terbaru. Aku baru akan bercerita tentang penampilan Sergio Mendes ketika tiba-tiba sambungan telepon kami terputus.

Keesokannya dia menelponku lagi dan meminta maaf. Aku memakluminya. Selanjutnya, kami bertukar cerita tentang film.

Kami sama-sama menyukai The Usual Suspects. Tentu saja bagian terkeren ada di akhir film, saat Verbal Kint melenggang keluar dari kantor polisi dan dengan santai menyalakan rokok. Lalu, dia bercerita tentang Baran, tentang cinta yang tidak harus memiliki dan tentang pengorbanan. Tapi dia terpaksa mengakhiri ceritanya karena …

“Suamiku pulang. Maafkan aku.”

Aku menghargai kejujurannya. Setidaknya kami masih bisa berteman.

Namun, ketika kupikir dia tidak akan menghubungiku lagi, lusanya dia menelponku. Awalnya dia meminta maaf atas ketidak jujurannya yang lain, yakni umurnya. Lalu setelah itu dia menceritakan kondisi rumah tangganya. Suaranya terdengar sedih. Hatinya hancur. Selama berjam-jam dia bercerita tentang cinta yang dikhianati serta perasaannya yang rapuh. Kata selingkuh dan cerai diucapkan bergantian, hingga yang tersisa hanya isak dan tangis.

Untuk diketahui, suaminya seorang pengusaha pabrik kimia dengan reputasi internasional. Dia sering menemani suaminya pergi ke pesta dan beberapa pertemuan penting. Di saat itulah dia seolah menjadi seorang wanita terhormat. Akan tetapi, sikap suaminya belakangan ini membuatnya cemas. Suaminya sedang dekat dengan salah seorang perempuan—rekan bisnisnya. Sangat dekat.

“Bisakah kita bertemu?” pintanya.

Aku terdiam sebentar memikirkan apa yang akan kukatakan saat bertemu dia nanti. Memberikannya nasehat? Atau, memintanya untuk bersabar? Atau, mungkin dia hanya butuh pendengar yang baik?

“Tentu,” jawabku.

*

Pagi itu taman belum terlalu ramai, hawanya sangat dingin. Aku langsung mengenali dirinya yang mengenakan jaket dan celana panjang coklat. Dia menyapaku dengan suaranya yang lembut, lalu kami berjalan sebentar dan duduk di bangku kayu di tepi danau. Dia tidak seperti kebanyakan perempuan lain di usianya yang sudah menginjak lima puluh, yang mengecohku dengan potongan rambutnya, rona merah di bibirnya yang tipis maupun kulitnya yang masih kencang. Kau pastinya akan menyangka usia kami hanya terpaut satu atau dua tahun.

Kami sama-sama gugup ketika memulai pembicaraan; kami bertanya tentang kabar masing-masing, sedikit mengulang percakapan kami di Tinder tentang buku, Jazz dan film. Setelah itu kami bicara hal-hal ringan lainnya, seperti studiku, pekerjaannya, sampai akhirnya dia bercerita tentang perselingkuhan itu.

Suaminya adalah cinta pertamanya, begitu dia memulai ceritanya. Mereka menikah di usia yang muda. Awal kehidupan rumah tangga mereka tidak semulus yang diharapkan. Masalah finansial jadi penyebabnya. Namun, masa-masa itu bisa dilalui bersama dengan sabar dan kerja keras. Singkatnya, bisnis suaminya semakin berkembang dan maju. Di mulai dari usaha rumahan hingga bisa berhasil membangun dua pabrik di Cikarang. Ketika masalah finansial sudah teratasi, masalah lainnya datang: Selingkuh.

Akan tetapi, apa yang pernah diceritakannya padaku lewat telepon sangat berbeda dengan yang diceritakannya pagi ini. Suaminya tidak selingkuh. Dia sudah membuktikannya setelah memeriksa ponsel suaminya. Semuanya bersih. Selain itu, dia pernah menyuruh orang untuk mencari tahu apa saja yang dilakukannya selama di luar kota. Apakah suaminya sedang berbisnis atau berselingkuh? Faktanya, suaminya memang sedang berbisnis. Meski demikian, dia menganggap dirinya terlalu dini menyimpulkan bahwa suaminya tidak berselingkuh. Dia memang sempat berpikir jika suaminya suaminya punya ponsel lain yang disembunyikannya. Atau, mungkin suaminya kebetulan sedang tidak berselingkuh saat orang suruhannya menyelidikinya. Namun, setidaknya dia merasa sedikit lebih tenang sekarang.

Aku lega tidak ada lagi masalah antara dia dan suaminya. Kami memandangi danau yang berkilauan diterpa cahaya matahari. Angin dingin bertiup lembut. Dia menyandarkan kepalanya di bahuku, menggenggam tanganku, membisikkan terima kasih karena aku mau mendengarkan semua keluh kesahnya. Lalu dia mencium bibirku dan kami saling berpelukan hingga masing-masing merasakan kenyamanan dan keintiman yang dalam. Dalam tatapan yang dipenuhi perasaan bahagia dia berkata,

“Sayang, aku akan menelponmu nanti malam.”

*      *      *

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Don`t copy text!