Bakso Urat Spesial

Adik perempuanku, yang baru saja berulang tahun yang kesepuluh, tiba-tiba mengajakku makan di warung bakso depan gedung SMA tidak jauh dari rumah kami. Aku tahu warung bakso yang dimaksud—yang baru buka seminggu itu. Katanya sih enak. Pelanggannya saja banyak.

Kami tiba di warung bakso sekitar jam setengah sebelas, adikku membebaskanku memilih menu apa saja.

“Tenang saja, Adek yang bayar,” katanya.

Aku membaca lembaran menu laminating di atas meja lalu menunjuk menu yang tidak begitu mahal: ‘Bakso Urat Spesial’.

“Mau minum apa?” tanyanya.

“Es teh manis, Bos,” kataku.

Adikku memesan dua mangkuk bakso urat dan dua gelas es teh manis.

Kami baru mengobrol sebentar ketika menu yang dipesan sudah datang. Adikku terlihat senang dan tidak sabar untuk menyantapnya.

“Ayo makan, Kak.” Dia mengambil sendok dan garpu, dan membuat baksonya lebih nikmat dengan menambah sedikit garam, kecap, saos, dan sambal.

Dalam urusan pedas, kami memang agak mirip. Aku menuang lumayan banyak saos dan sambal ke dalam mangkuk baksoku dan mengaduknya. Aku menyesap kuahnya yang gurih dan menikmati baksonya yang kenyal.

Rupanya perjalanan makan bakso adikku sudah lebih jauh; baksonya tersisa satu yang besar, kuahnya yang kemerahan itu hampir habis, es teh manisnya tinggal setengah gelas. Dia mengusap keringat di wajahnya dengan lengan baju, matanya berair karena kepedasan.

Kami memang jarang makan bakso atau makanan enak yang lain, tapi khusus di hari istimewanya ini, adikku mengambil uang tabungannya demi menyenangkan dirinya sendiri dan kakaknya yang masih menganggur.

Adikku akhirnya menghabiskan bakso terakhirnya, menyendok habis kuahnya hingga mangkuknya terlihat bersih, menghabiskan es teh manisnya, dan sedikit bersendawa, kemudian dengan wajahnya yang polos dia memandangku, dan berkata, “Enak, Kak.”

*      *      *

One comment

Don`t copy text!