Ayah dan Tukang Koran

Dari situ saya tahu, kenapa ayah masih langganan koran.

Rasa-rasanya aneh lihat Ayah masih baca koran. Padahal, Ayah sudah punya smartphone sendiri. Kalaupun layarnya dirasa kurang besar, Ayah juga bisa pakai tablet.

Ayah masih beli dua koran yang sama di tukang koran yang sama sejak belasan tahun lalu. Satu koran olah raga – buat lihat jadwal bola, preview dan analisa pertandingan, dan berita transfer. Satu koran lainnya koran lokal – supaya tahu kejadian-kejadian di Bekasi.

Ayah juga masih nyamperin tukang korannya. Hampir setiap hari. Kecuali kalau sedang berhalangan, seperti lagi di WC, barulah si tukang koran melempar korannya ke teras.

Saya tahu tukang koran itu. Namanya Bang Mamat. Yang sedari muda sudah jadi tukang koran. Yang dulu suka menyapa saya kalau ketemu di jalan. Bang Mamat masih keliling pakai sepeda yang sama. Sepeda mini warna silver dengan keranjang di depan. Sejak pindah rumah, saya tidak pernah lagi melihatnya. Hingga di Sabtu pagi itu, saat saya berkunjung ke rumah Ayah, Bang Mamat datang memanggil Ayah dengan suara khasnya. “Koran, Beh!” Dan Ayah pun bergegas keluar menemuinya.

Lewat jendela saya memerhatikan mereka. Dari situ saya tau Bang Mamat sudah punya mantu dan sebentar lagi jadi kakek. Dari situ saya tahu mereka senang ngobrolin sepak bola hingga politik. Dari situ saya tahu mereka suka bercanda dan tertawa lepas. Dari situ akhirnya saya tahu, kenapa Ayah masih berlangganan koran.

* *

Default image
Happy Inc.
Bahagia itu Sederhana
Articles: 3

Leave a Reply