cerpen-tentang-ayah-dan-anaknya

Ayah dan Aku

Aku menulis ini untuk anakku yang belum lahir, untuk istri yang belum kunikahi, untuk mobil yang belum kumiliki, untuk rumah yang belum kutempati. Anakku akan menjadi dokter, itulah impianku.

Aku biasa mengunjungi kakekku dua kali setahun. Pada saat liburan sekolah dan pada saat lebaran, dan jadi tiga kali saat nenek dan kakekku meninggal.

Kakek tinggal di rumah senderhana. Tanpa TV. Tanpa lemari es. Listrik hanya untuk lampu dan radio. Kamar mandinya tanpa atap dan terpisah dari rumah. Halaman sampingnya ditumbuhi satu pohon rambutan yang menjulang tinggi. Daunnya rimbun. Buahnya kami bawa pulang sebanyak satu atau dua karung, yang sebagian dibagi ke tetangga dan sebagian lainnya dibagi ke teman-teman kerja Ayah. Ayah bilang pohon itu sudah ada jauh sebelum ia lahir.

Kakek pensiun dari juru tulis di kantor desa di usia lima puluh tiga, selepas itu ia bersama Nenek jualan kupat tahu di pasar. Ia meninggal waktu aku berusia empat belas, atau tiga tahun setelah Nenek meninggal. Rumahnya kemudian ditempati pamanku atas kesekapatan bersama ketujuh anaknya. Seharusnya Ayah bisa mendapat bagian dari rumah itu, tetapi Ayah bilang pamanku lebih membutuhkan.

Ayahku seorang mekanik di pabrik panci, seragam kerjanya berwarna biru dengan bordiran nama berwarna merah di dada sebelah kanan. Aku biasa menemukannya sedang makan malam atau baca koran. Saat melihatnya, aku juga melihat putih rambutnya dan urat-urat tangannya yang menonjol. Aku berkata pada diriku, apakah aku akan menjadi seperti dirinya? Lalu kulihat Ibu yang tidak jauh beda dari Ayah. Tapi aku melihat Ayah sebagai orang yang berdedikasi pada pekerjaannya. Ayah bilang kerja itu berjuang, dan untuk berjuang kamu harus menikmatinya.

Aku anak pertamanya.

Aku mewarisi wajah lonjongnya dan rambutnya yang keriting, hidungku yang bengkok berasal dari Ibu, sedangkan karakterku menurun dari keduanya. Aku kerja seperti dirinya, berangkat pagi dan pulang malam. Jika aku terus mengikuti pola hidupku yang sekarang maka aku jadi seperti Ayah. Aku kerja, terima gaji di akhir bulan, empat atau lima tahun kemudian aku akan menikah, menimang bayiku, melihat anakku tumbuh remaja dan anakku menceritakan kejadian yang sama seperti yang kulakukan sekarang. Meskipun begitu, setidaknya pekerjaanku lebih baik. Aku tidak perlu berpanas-panasan dengan mesin dan pulang dengan pakaian yang lebih bersih. Aku ditempatkan di bagian arsip. Tugasku menyusun dan mencari arsip jika staf lain memerlukan. Sangat mudah. Aku bahkan sudah hapal letak arsip-arsip itu.

Aku pergi kerja naik kereta. Rumahku berjarak tiga kilometer dari stasiun, atau lima menit naik angkot, atau dua puluh menit dengan jalan kaki—aku lebih memilih jalan kaki ke stasiun untuk menghemat uang.

Setiap pagi aku berdiri berdesak-desakan, bertahan dari dorongan-dorongan penumpang, dan menahan pegal di dalam kereta selama empat puluh lima menit. Aku sebetulnya bisa saja dapat tempat duduk dengan mudah. Yang kulakukan hanya datang lebih pagi, menunggu kereta masuk di barisan paling depan di peron, lalu melompat dengan cepat ke atas kereta, dan langsung duduk tanpa pilih-pilih tempat. Tapi aku malas melakukannya, setidaknya sebelum aku kenal Erlin.

Erlin adalah wajah baru di stasiun ini. Orang baru biasanya menanyakan di peron mana seharusnya dia berdiri. Aku senang Erlin bertanya padaku, dan semakin senang saat tahu kami turun di stasiun yang sama. Dia mengenakan stelan blazer biru tua dan rok selutut.

Di dalam kereta kami berkenalan. Dia bilang dia baru dua bulan bekerja, di bagian akunting. Dia biasanya bawa mobil ke kantornya di Thamrin, tapi dia jenuh dengan kemacetan. Dia tidak tahu aku memperhatikannya sejak tadi. Aku menyukai rambutnya yang harum, matanya yang sipit, lehernya yang jenjang, dan lesung pipinya yang terlihat saat tersenyum. Lengannya sedikit berbulu, jari-jarinya yang lentik tidak memakai cincin. Kami turun di stasiun yang sama. Kubilang padanya lain kali pakai celana panjang saja.

Keesokannya, kami bertemu lagi. Dia yang menyapaku lebih dulu. Dia memakai celana jeans, kaos putih dan kardigan coklat—pakaian kerjanya disimpan di dalam tasnya. Aku mendapatkan tempat duduk untuknya di kereta dengan susah payah, tapi dia tertidur tidak lama setelah kereta bergerak. Rambutnya menutup wajahnya yang menunduk, kepalanya menempel di pahaku. Aku membangunkannya sesaat sebelum tiba di Stasiun Sudirman. Dia menguap panjang, matanya yang masih mengantuk memandangku, lalu tersenyum. Di Stasiun Sudirman kami bertukar nomor telepon. Kami berjalan sangat dekat hingga lengan kami saling menempel. Aku ingin memegang tangannya tapi tidak kulakukan. Malamnya aku mengucapkan selamat tidur lewat whatsapp. Dia membalasnya, mengucapkan selamat tidur juga—dengan emotikon zzz. Lima menit kemudian dia mengirim whatsapp lagi, mengundangku untuk datang ke pesta ulang tahunnya hari Sabtu—disertai emotikon ulang tahun dan alamat rumahnya.

*

Aku sedang membaca Murder on The Orient Express ketika Ayah memanggilku. Aku sengaja menunggunya sampai Ayah memanggilku tiga kali, setelah itu barulah aku mendatanginya. Ibu duduk di kursi dekat kipas angin sambil membaca majalah edisi dua bulan lalu. Aku duduk di samping kanan Ayah dengan malas, mengambil koran kemarin di atas meja, dan membaca kolom olah raga Ayah mulai bicara.

Ayah kaget ketika koran yang sedang kubaca dirampas Ayah, lalu dilemparnya ke atas kursi di sampingnya. Ibu bangkit, meletakkan majalah di atas meja, dan meninggalkan kami berdua.

Ayah memulai pembicaraan dengan kata “Dengar Ayah,” kata yang biasa diucapkannya kalau sedang menasehati anak-anaknya. Kemudian ia bicara pelan-pelan supaya aku jelas mendengarnya. Aku paham maksud Ayah malam itu, paham sampai ke detailnya. Aku juga tahu posisiku sebagai anak pertama. Ayah bilang, mulai besok ia sudah tidak bekerja lagi, karena re-struk-turisasi perusahaan—aku ragu ia paham kata itu. Lalu dengan bahasa yang halus ia menasehatiku supaya aku kerja yang bener dan tidak banyak mengeluh. Tapi, kata-kata yang kutangkap adalah, bahwa semua beban di rumah ini akan ditaruh di pundakku. Aku akan jadi satu-satunya pencari nafkah di rumah. Aku hanya menjawab “Ya” dan “Paham”, setelah itu pergi ke kamar dan tidur lebih cepat.

Pergi ke rumah Erlin keesokannya membuat beban pikiranku jadi lebih ringan. Rumahnya tidak terlalu jauh, hanya satu kali naik angkot dan sepuluh menit jalan kaki. Mobil-mobil berbaris di depan rumahnya. Aku mungkin satu-satunya tamu yang naik angkot, membuatku jadi minder dan berpikir ulang untuk masuk ke rumahnya. Aku baru akan berputar balik ketika kudengar Erlin memanggil namaku. Aku berjalan menghampirinya, menyalaminya dan mengucapkan selamat ulang tahun. Dia terlihat sangat cantik dengan gaun birunya. Dia mengucapkan terima kasih, menempelkan pipinya yang lembut ke pipiku, lalu menarikku masuk ke dalam rumah. Dia menyuruhku duduk dan meninggalkanku untuk menyambut teman-temannya yang lain. Aku memilih duduk di sudut ruangan, tersembunyi di antara rak buku dan meja bulat.

Acaranya dimulai tepat jam satu, semuanya menyanyikan “Happy birthday to you”, Erlin meniup api di atas lilin angka 24, dan semuanya bertepuk tangan. Laki-laki tampan yang berdiri di sebelahnya mencium keningnya dan memberikannya sebuah kado besar.

Aku masih menyimpan kado untuknya di dalam tas selempangku, sebuah buku dengan selembar puisi yang disisipkan di tengah buku. Kado dariku akan berada diantara HP,  jam tangan mahal, dan perhiasan-perhiasan indah dibungkus dengan cantik. Aku akhirnya memutuskan tidak memberikannya. Mungkin akan kuberikan lain waktu.

*

Sejak Ayah tidak bekerja, aku sering menemukannya duduk di depan TV, tidur di sofa, atau duduk melamun di teras. Aku tidak tahu apa yang dipikirkannya. Mungkin ia sedang merindukan pekerjaannya atau memikirkan keluarganya. Ia seperti kehilangan semangat, dan itu membuatku kecewa.

Aku menghibur diri dengan memikirkan Erlin, perempuan yang kelak akan kunikahi. Tentu saja setiap laki-laki punya jalan untuk membahagiakan gadis pujaannya. Aku pun begitu. Mungkin ini seperti sebuah mimpi, tapi aku akan menemukan jalan untuk menarik perhatiannya. Di jalan itu, aku akan mendirikan perusahaan startup, kemudian perusahaanku akan dapat investasi, dan setelah itu jadi perusahaan besar. Seperti Facebook. Lalu aku akan menikahi Erlin dan kami akan bahagia. Aku punya ide-ide bagus untuk startup-ku. Tapi sayangnya aku tidak punya laptop. Bagaimana aku memulai bisnisku tanpa laptop?

Lagi-lagi Ayah membuatku kesal. Kenapa Ayah harus berhenti kerja di saat yang tidak tepat? Bagaimana aku bisa beli laptop sementara aku masih harus mengeluarkan uang untuk keluarga? Ayah seharusnya bisa memahami aku. Di usianya yang masih lima puluh satu, bukankah ia bisa mencari pekerjaan lain? Haruskah aku melihatnya menonton TV setiap waktu? Apakah setiap anak harus melalui sirkulasi seperti ini: Ibu melahirkan aku, Ayah mencari nafkah, Ayah membiayai sekolah, dan untuk membalas jasa mereka maka aku harus menafkahi mereka kemudian. Mungkin aku bukan anak baik, tapi aku punya alasan mencabut kabel TV saat Ayah sedang menontonnya. Kejadiannya sangat cepat, tapi itu jauh lebih baik ketimbang memecahkan layar TV atau membantingnya.

Ayah terdiam, seakan sadar apa yang sedang terjadi. Ia datang menghampiriku yang sedang baca koran—sebenarnya pura-pura membaca—lalu duduk di sampingku dan memintaku untuk mendengarnya. Kali ini aku tidak mendengar kata “Dengar Ayah”, dan sebagai gantinya ia pun meminta maaf padaku. Ia kemudian berjanji akan mencari pekerjaan baru. Sebelum pergi ia meminta maaf lagi. Sebetulnya, hal itu malah membuatku merasa bersalah.

Hari-hari berikutnya aku tidak lagi melihat Ayah di depan TV. Aku lebih sering melihatnya mengerjakan sesuatu, seperti mencuci baju, menanam pohon di pot atau menyetrika. Sampai suatu ketika aku tidak menemukan Ayah di rumah saat aku pulang kerja. Ibu bilang Ayah sudah kerja lagi, tapi Ibu belum tahu kerja di mana.

Pada suatu malam, menjelang tidur, aku memasang telinga untuk mencari tahu jam berapa Ayah pulang.

Sekitar jam 11 aku mendengar pintu pagar terbuka, dan melalui celah pintu kulihat Ibu sedang menyambut Ayah yang baru pulang dari bekerja. Ayah duduk di lantai ruang tengah dan meneguk teh hangat buatan Ibu. Ia tampak lelah, bajunya basah karena keringat. Ia menanyakan kabar keempat anaknya. Ibu bilang, aku baru memberinya seratus lima puluh ribu untuk membeli sepatu untuk adik keduaku. Ayah tersenyum. Lalu hening. Ayah tidak menyetel TV. Tubuhnya disandarkan ke dinding di samping lemari, dan tertidur.

Sudah satu bulan berlalu sejak kudengar Ayah dapat pekerjaan baru. Saat itu bulan Agustus, aku baru saja dipromosikan ke bagian penagihan beberapa hari lalu. Aku punya meja sendiri tepat di bawah AC dan memakai komputer. Pada suatu siang, di jam istirahat, aku melihat Ayah berdiri di depan pintu masuk ruang kerjaku, di tangannya ada empat galon air kosong. Aku tidak tahu sudah berapa lama Ayah memperhatikanku, tapi ia datang bukan untuk melihatku, melainkan untuk mengantar air ke kantorku. Ya, ayahku bekerja untuk perusahaan air minum. Lalu kulihat ia melambaikan tangannya padaku dan tersenyum, seakan mengatakan ia bangga putranya kerja di tempat yang nyaman.

Tapi Ayah tidak mendatangiku. Ia membalik badannya dan melangkah pergi. Aku diam sejenak menyesali perbuatanku waktu itu, ketika aku mematikan TV saat Ayah sedang menontonnya. Aku kemudian bangkit, berlari mengejarnya, dan memeluk tubuhnya yang berkeringat.

“Hei, anak laki-laki nggak boleh cengeng,” katanya. Dan aku pun tersenyum padanya.

Ijinkan aku menyampaikan pesan kepada diriku yang masih memimpikan istri cantik, rumah indah dan mobil bagus. Aku menulis ini di laptop baruku, di samping Ayah yang sedang nonton TV. Aku berkata pada diriku, “Anakku akan menjadi dokter. Karena itu, aku harus lebih baik dari anakku.”

* *

Ali
Ali

Pria tampan nan ganteng ini tinggal di Bekasi

Leave a Reply

Your email address will not be published.