Ayah dan Aku

Ayah datang bukan untuk melihatku. Akan tetapi, apakah arti tatapannya?

Aku menulis ini untuk anakku yang belum lahir, untuk istri yang belum kunikahi, untuk mobil yang belum kumiliki, untuk rumah yang belum kutempati. Anakku akan menjadi dokter, itulah impianku.

Aku kenal betul kakekku. Tiga kali dalam setahun aku mengunjunginya, dan tiap kali aku ke sana, kakek selalu cerita tentang Ayah. Ayah bangga pada kakek. Ayah bilang kakek adalah seorang pejuang, dan tiap kali Ayah menceritakannya, Ayah selalu mengatakan betapa keras kakek mengajar Ayah waktu kecil.

Kakek tinggal di rumah yang kecil. Tanpa TV dan lemari es. Listrik digunakan hanya untuk lampu dan radio. Kamar mandinya tanpa atap dan terpisah dari rumah. Lantainya berlumut, penerangannya redup. Di belakangnya berdiri satu pohon rambutan yang menjulang tinggi. Daunnya rimbun dan berbuah banyak. Kami biasa bawa pulang rambutan satu atau dua karung. Sebagian kami bagi ke tetangga dan teman kerja Ayah. Usia pohon itu pastinya lebih dari lima puluh tahun karena Ayah bilang pohon itu sudah ada sejak ia masih kecil. Tidak jauh dari pohon rambutan itu, di balik pohon rambutan lainnya, ada beberapa kuburan tua.

Sejak berusia dua belas tahun kakek kerja di pelabuhan dan berhenti kerja di usia empat puluh enam. Di sisa umurnya kakek jualan ikan bersama nenek. Kakek meninggal di bulan Juni atau tepat tiga tahun setelah nenek meninggal. Tidak banyak yang diwariskan kakek, bahkan rumahnya. Rumah yang ditempati kakek milik Pak Samin. Pak Samin membeli rumah kakek tahun 2002 seharga tujuh belas juta. Setengah dari uang itu digunakannya untuk membayar hutang ke rentenir, sisanya digunakan untuk menyewa bekas rumahnya. Kakek hanya mewariskan semangat kerja keras pada Ayah dan sebuah kamus tua.

Ayah seorang mekanik di pabrik panci. Ayah orang yang sangat menghargai pekerjaannya. Selama dua puluh enam tahun Ayah berdesak-desakkan di dalam bis. Seragam kerjanya berwarna biru dengan bordiran nama berwarna merah di atas kantung sebelah kiri. Jatah liburnya dua kali dalam sebulan. Ayah bilang, “Kerja itu berjuang, dan untuk berjuang kamu harus menikmatinya.”

Aku anak pertamanya.

Aku mewarisi wajah dan rambut keriting Ayah, hidungku lebih cenderung ke Ibu sedangkan karakterku menurun dari keduanya. Aku kerja seperti Ayah, berangkat pagi dan pulang malam. Kupikir mungkin inilah risiko menjadi anak pertama. Tapi aku selalu menganggap hidup ini mengalir seperti sungai. Ayah dan aku bekerja, Ibu mengurus rumah, sementara ketiga adikku pergi sekolah.

Kami tidaklah miskin, setidaknya untuk ukuran enam orang dalam rumah tipe 36. Jika aku terus mengikuti pola hidupku maka akan berjalan seperti adanya. Aku kerja, aku terima gaji, lalu empat atau lima tahun lagi aku akan menikah, menimang bayiku, melihat anakku tumbuh remaja dan anakku menceritakan kejadian yang sama seperti yang aku lakukan sekarang. Namun bila dibandingkan dengan Ayah, kurasa, aku lebih beruntung, setidaknya pakaianku tidak kotor saat bekerja atau berpanas-panasan dengan mesin. Tugasku mencari dan menyusun file jika staf lain memerlukan. Sangat mudah. Aku bahkan hapal letak file itu.

Ibu menyiapkan sarapan jam lima. Aku dan Ayah menjadi prioritas karena kami harus berangkat jam lima tiga puluh, setelah itu barulah adik-adikku menyusul. Rumahku berjarak tiga kilometer dari stasiun, atau berjarak lima menit naik angkot, atau lima belas menit dengan berjalan cepat. Aku lebih memilih jalan kaki.

*

Orang-orang yang ingin naik kereta berjejer di peron. Yang di barisan depan berpeluang besar dapat tempat duduk. Tapi itu belum cukup. Mereka harus lebih gesit supaya bisa dapat tempat duduk. Yang tidak dapat tempat duduk akan berdiri berdesak-desakkan. Tiap kali kereta berhenti di stasiun, orang-orang akan terus bertambah hingga aku bisa merasakan dorongan dari empat sisi. Sebenarnya aku bisa berada di barisan depan saat menunggu kereta masuk, lalu melompat lebih cepat dari yang lain dan dapat tempat duduk. Tapi aku enggan melakukannya, setidaknya, sebelum aku kenal Erlin.

Erlin adalah wajah baru di stasiun ini. Aku hapal orang-orang yang biasa naik KRL. Orang baru biasanya menanyakan di peron mana seharusnya dia berdiri. Aku senang Erlin bertanya padaku. Erlin mengenakan stelan blazer biru dongker dengan dan rok selutut. Di dalam kereta, saat kami ngobrol, kubilang padanya lain kali pakai celana panjang saja.

Keesokan harinya kami bertemu lagi. Erlin sudah mengganti roknya dengan celana jeans. Dia juga memakai kaos putih dan kardigan coklat. Pakaian kerjanya disimpan di dalam tasnya. Aku memerhatikan jari-jarinya yang lentik dan putih. Tidak ada cincin di jarinya. Erlin punya mata indah dan agak sipit, sesuai dengan kulitnya yang putih. Lehernya bersih dengan rambut-rambut tipis. Dia tidak tahu aku memerhatikannya, tapi dia tahu aku suka lesung pipitnya. Dia pernah sengaja tesenyum untuk menunjukkan lesung pipitnya.

Hari berikutnya aku berusaha mendapatkan tempat duduk untuknya. Aku berangkat lebih pagi, lalu berdiri menunggu di barisan depan peron. Begitu dapat tempat duduk, aku melambai padanya, dan menyuruhnya duduk di tempatku.

*

Ayah selalu tiba di rumah lebih dulu. Aku biasa menemukannya sedang makan malam atau baca koran. Saat aku melihatnya, aku juga melihat putih rambutnya, keriputnya yang tebal dan urat-urat tangannya yang menonjol. Lalu aku berkata pada diriku, apakah aku akan menjadi seperti Ayah? Lalu aku melihat Ibu yang tak beda jauh dari Ayah. Aku berkata pada diriku lagi, apa yang membuat Ibu menikahi Ayah? Lalu aku membayangkan wajah Erlin dan berkata pada diriku, apa yang membuat Erlin akan menikahiku? Dan Sabtu besok Erlin mengundangku ke rumahnya, ke pesta ulang tahunnya. Sebuah undangan yang tidak bisa kutolak.

Di suatu malam Ayah memanggilku.

Aku masih ingat harinya, malam senin, empat hari setelah ulang tahunku yang ke dua puluh tiga. Ibu duduk di samping Ayah, membaca majalah edisi dua bulan lalu. Aku duduk di hadapan Ayah, membaca judul berita koran di atas meja. Beberapa saat kemudian Ayah memulai pembicaraan. Aku tidak ingat apa yang Ayah ucapkan pertama kali karena aku terlanjur asik membaca berita olahraga. Ibu masih membaca majalah dan kurasa Ibu juga tidak memerhatikannya.

Ayah mengambil koran yang sedang kubaca, melipatnya dan meletakkan di bawah meja. Itu tandanya pembicaraan mulai serius. Ibu bangkit, meletakkan majalah di atas meja dan meninggalkan kami tanpa sepatah kata. Sepertinya Ibu tidak ingin mencampuri urusan laki-laki. Aku melihat sekilas iklan komputer di majalah dan membayangkan sedang mengetik di komputer sendiri.

Ayah tidak pernah memulai dengan pembicaraan ringan. Ayah mengatakan apa yang perlu disampaikan dan setelah itu Ayah akan membiarkanku berpikir. Kata “Dengar Ayah ..” adalah kata yang sering diucapkan agar aku mengerti. Aku paham maksud Ayah malam itu, aku mengerti sampai ke detailnya, sebuah pembicaraan dari laki-laki ke laki-laki, dari Ayah ke anak pertamanya. Aku paham keadaan Ayah dan aku tahu posisiku. Ayah tidak kerja lagi. Ayah bilang karena re-struk-turisasi perusahaan (aku ragu Ayah paham kata itu). Itu artinya semua beban di rumah ini akan ditaruh di pundakku. Ayah memberi kepercayaan padaku sebagaimana Ayah percaya pada diri Ayah. Bagi Ayah, aku adalah cermin dirinya. Bagiku, aku adalah aku. Ya, … aku adalah aku. Aku bergaul dengan orang yang aku ingini, membeli barang yang kumau atau pergi ke mana saja ke tempat yang aku suka. Dan aku akan pergi ke rumah Erlin besok.

Rumah Erlin tidak terlalu jauh, hanya dua kali naik angkot dan sepuluh menit jalan kaki. Aku berjalan melewati rumah-rumah besar tanpa pagar. Rumah Erlin mudah dikenali dengan barisan mobil di tepi jalan depan rumahnya. Aku berdiri mematung di sebarang rumahnya. Aku hampir tidak jadi masuk kalau tidak kulihat Erlin melambai padaku. Tapi kemudian dia terlalu sibuk menyapa teman-temannya. Aku berinisiatif duduk di ruang tamu, di depan lemari buffet yang besar.

Acara dimulai tepat jam satu. Semuanya menyanyikan “Happy birthday to you.” Kemudian setelah itu seorang laki-laki mencium kening Erlin dan memberikannya sebuah kado besar. Aku tahu laki-laki itu, laki-laki yang membuatku cemburu.

Aku menyimpan kado untuknya di tasku, sebuah buku dengan selembar puisi yang kubuat sendiri disisipkan di tengah buku. Kado itu akan berada diantara tumpukan kado-kado bagus, di antara HP dan jam tangan mahal, dan perhiasan-perhiasan indah dibungkus dengan cantik. Aku memutuskan tidak memberikannya. Aku tetap menyimpannya, barangkali akan kuberikan lain waktu.

Semenjak Ayah tidak bekerja, aku seringkali menjumpainya duduk di depan televisi. Bahkan, tak jarang kutemui Ayah duduk melamun di teras. Aku tidak tahu apa yang Ayah pikirkan. Mungkin Ayah sedang merindukan pekerjaannya. Yang bisa kulakukan hanyalah menjadi anak yang baik.

Selanjutnya aku akan menceritakan tentang Ayahku yang seharusnya tidak kuceritakan.

Sebelumnya, menonton TV bukanlah kebiasaan Ayah. Ayah biasa memegang kunci inggris atau menjalankan mesin di setengah hidupnya. Ayah seperti sedang kehilangan semangat dan pegangan. Tidak banyak yang dilakukannya dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Aku kecewa melihatnya. Aku tunjukkan sikapku dengan tidak banyak bicara sambil berharap semoga Ayah mengerti maksudku. Dan Erlin? Erlin masih seorang perempuan yang ingin kunikahi.

Erlin memiliki apa yang kuanggap menyenangkan dan tentu saja tiap laki-laki punya jalan untuk membahagiakan perempuan. Aku punya tekad untuk membuatnya bahagia. Mungkin ini seperti sebuah mimpi, tapi aku akan menemukan jalan untuk menarik perhatiannya. Di jalan itu, aku akan menjadi penulis. Aku akan menjadi penulis besar, lebih besar dari penulis abad ini. Lalu aku mendapat uang banyak dan aku akan menikah dengan Erlin dan kami akan bahagia. Aku punya bakat dan ide-ide besar untuk tulisanku. Tapi aku tidak punya komputer. Bagaimana aku bisa menulis tanpa komputer?

Lagi-lagi Ayah membuatku kesal. Kenapa Ayah harus berhenti kerja di saat yang tidak tepat? Bagaimana aku dapat beli komputer jika masih harus mengeluarkan uang untuk keluarga? Ayah seharusnya mengerti aku. Usia Ayah belum juga lima puluh. Tidakkah di usianya itu Ayah masih bisa mencari pekerjaan lain? Haruskah aku melihat Ayah menonton TV setiap hari? Apakah setiap anak harus melalui sirkulasi seperti ini: Ibu melahirkan aku, Ayah mencari nafkah, Ayah membiayai sekolah. Untuk membalas jasa mereka maka aku harus menafkahi mereka kemudian? Mungkin aku bukan anak baik, namun aku punya alasan mematikan TV tiba-tiba saat Ayah sedang menontonnya. Kejadiannya begitu cepat, dan itu lebih baik dibandingkan dengan memecahkan layar TV atau membantingnya.

Ayah sadar apa yang terjadi. Ayah tahu maksud sikapku ini dan Ayah ingin memperbaikinya. Ayah menghampiriku yang sedang baca koran (sebenarnya hanya pura-pura baca) dan memintaku untuk mendengarnya. Kali ini aku tidak mendengar kata “Dengar Ayah!” dan sebagai gantinya Ayah lebih sering minta maaf sehingga terkesan Ayah sedang menyalahkan dirinya. Kupikir memang seharusnya demikian. Ayah berjanji akan mencari pekerjaan baru sepanjang Ayah mampu. Dan sekali lagi Ayah minta maaf. Sebenarnya hal itu malah membuatku merasa bersalah.

Hari berikutnya aku tidak pernah melihat Ayah di depan TV. Aku lebih sering melihatnya mengerjakan sesuatu seperti membuat kursi, membuat gantungan baju, menyetrika, membaca atau apa pun itu asal bukan menonton TV. Dan hari-hari berikutnya aku jarang menemukan Ayah di rumah. Ibu bilang Ayah sudah kerja lagi, tapi Ibu belum tahu di mana Ayah kerja.

Satu malam, menjelang tidur, aku memasang telinga untuk mengetahui jam berapa Ayah pulang. Aku mendengar seseorang membuka pintu pagar dan orang yang kami cintai itu pulang disambut Ibu. Aku melihat dari celah pintu. Aku melihat Ibu sedang memijat Ayah.

Dan sekali lagi, aku merasa bersalah.

Satu bulan berlalu sejak kudengar Ayah dapat pekerjaan baru. Saat itu bulan Agustus, dua bulan setelah aku dipromosikan ke bagian penagihan. Aku punya meja sendiri tepat di bawah AC, dan aku menggunakan komputer.

Di suatu siang, setelah jam istirahat, aku melihat Ayah berdiri di depan pintu masuk ruang kerjaku. Aku tidak tahu sudah berapa lama Ayah memerhatikanku, tapi kurasa Ayah datang bukan untuk melihatku. Akan tetapi, apakah arti tatapannya?

Ayah melambaikan tangannya padaku dan aku pun menangkap isyaratnya. Sepertinya Ayah sedang mengatakan: Ayah bangga anaknya kerja di ruangan yang nyaman.

Ayah kerja untuk perusahaan air minum dan Ayah datang mengantarkan air ke kantorku. Ayah memegang empat galon air kosong. Tak lama kemudian Ayah pun berlalu pergi. Kutinggalkan meja dan berlari menyusul Ayah. Aku memanggilnya dan melabrak tubuhnya yang berkeringat lalu memeluknya erat.

Ayah berkata, “Hei, anak laki-laki nggak boleh cengeng.”

Dan aku pun tersenyum padanya.

Ijinkan aku menyampaikan pesan kepada diriku yang masih memimpikan istri cantik, rumah indah dan mobil bagus. Aku menulis ini di komputer baruku, di samping Ayah yang sedang nonton TV. Dan aku berkata pada diriku, “Anakku akan menjadi dokter. Karena itu aku harus lebih baik dari anakku.”

* *

Default image
Ali
Pria tampan nan ganteng ini (masih) tinggal di Bekasi

Komentar