monochrome photo of man sitting on grass

Armand

Waktu usia kami 6, 7 dan 8 tahun, ada seorang pemuda bernama Armand yang biasa memberikan kami uang lima ratus rupiah atau permen, bermain tebak-tebakan, mengaji, membuat kami tertawa, takut dan terpukau dengan cerita-cerita, atau memainkan trik sulap usai salat asar di masjid—kami terkagum-kagum saat ia mencopot jempol dari tangannya.

Apa yang kami ingat tentang Armand yakni usianya tidak lebih dari 17 atau 18 tahun; kami sepakat usianya tidak mungkin kurang atau lebih dari itu; wajahnya sempit dengan tahi lalat di pipi kanan dan senyum tulus, tubuhnya kurus dan tinggi, memakai pakaian lusuh dan peci haji yang sama setiap kali kami bertemu, berjualan di pasar dan tinggal di ujung kampung. Ia sering terlihat sedang menyapu halaman masjid, memperindahnya dengan pohon buah dan bunga di tepian pagar—bunga dan buahnya baru terlihat setelah beberapa pekan ia meninggalkan kampung.

Ketika kami berkunjung ke rumahnya dengan menaiki sepeda di Sabtu pagi yang cerah sepekan setelah ia tidak lagi terlihat di masjid, kami bertemu seorang wanita yang kami sangka ibunya. Rumahnya berpagar bambu, tidak besar, halaman depan dan sampingnya ditumbuhi pohon bunga warna-warni dan berbagai pohon buah.

“Kalian siapa?” tanya wanita itu dengan nada ketus setelah menjawab salam kami. Awalnya kami mengira dia seorang wanita tua tidak ramah yang risih dengan kehadiran anak-anak. Mukanya yang cekung dan matanya yang melotot sudah memberikan gambaran kami harus berhati-hati bicara dengannya.

“Kami … kami murid ngajinya,” jawab salah seorang dari kami, yang sebetulnya agak sulit memposisikan Armand sebagai guru ngaji mengingat ia lebih banyak bercerita atau bermain tebak-tebakan ketimbang mengaji.

Wanita itu membuka pintu pagar dan mempersilahkan kami masuk. Kami memarkir sepeda di dekat pagar, lalu melihat-lihat kebunnya yang rimbun. Dua bocah laki-laki terlihat sedang mengintip dari balik pintu.

“Armand yang menanam semua,” kata wanita itu.

“Di mana Armand?” tanya salah seorang dari kami.

“Pergi ke Jakarta,” jawabnya.

Kami paham, akan tetapi bukan kabar itu yang ingin kami dengar—sejujurnya kami juga tidak tahu cerita apa yang ingin kami dengar. Kami hanya ingin bertemu dengannya, mendengarnya bercerita, menunjukkan trik sulap atau bermain tebak-tebakan.

“Anda ibunya?”

“Bukan,” jawabnya. “Bukan juga bibinya atau kerabatnya.”

Setelah mendengar jawabannya, kami pikir, kami tidak perlu berlama-lama di rumah itu, tapi wanita itu menahan kami dengan berkata, “Tunggu sebentar,” lalu ia melangkah ke dalam rumah dan kembali dengan nampan berisi kue dan air minum. “Kalian sudah bersusah payah kemari, duduklah dulu, nanti kuceritakan tentang Armand.”

Ternyata dia wanita yang ramah, bukan wanita ketus seperti yang kami kira di awal. Kami makan kue lezat itu yang dalam sekejap saja sudah habis. Kemudian, dia menarik bangku kayu panjang dan duduk di atasnya, lalu dipanggilnya dua bocah laki di dalam rumah, yang diperkenalkannya kepada kami sebagai cucunya yang bernama Ilyas dan Ilyasa. Kedua bocah itu menyalami dan menciumi tangan kami, setelah itu duduk di samping wanita itu, tapi wanita itu menyuruh mereka menggambar di dalam. Setelah keduanya pergi, wanita itu pun mulai bercerita.

“Kami datang ke kampung ini enam bulan lalu,” katanya. “Bekal kami habis di perjalanan, dan untuk bertahan hidup kami meminta belas kasihan orang-orang di jalan. Sungguh, kalau tidak benar-benar terpaksa, aku tidak akan mengemis. Kasihan cucuku. Beberapa orang memberi kami seratus atau dua ratus, tapi ibunya Armand memberi kami perut kenyang. Dia mengajak kami ke masuk ke dalam rumahnya dan menyuruh kami makan makanan yang sudah tersaji di meja. Hari itu, untuk pertama kalinya sejak sebulan terakhir kami makan enak. Ibunya Armand sebetulnya tidak bernasib lebih baik dari kami; badannya lumpuh sebelah dan dia memakai tongkat, tapi kebaikannya membuatnya jauh lebih baik dariku.

“Waktu kami akan pamit, dia menanyakan tujuan kami. Lalu, setelah kuceritakan kenapa kami bisa sampai di tempat ini, dia memberikan kami tempat untuk menginap. Kami memakai kamar Armand, sementara Armand tidur di ruang tamu. Dia juga memberikanku bajunya yang masih bagus, dan besoknya Armand membelikan baju untuk kedua cucuku. Aku tidak berpikir dari mana ia mendapatkan uang begitu banyak, sampai suatu hari aku tahu hidup mereka pas-pasan—saat itu aku tidak sengaja mendengar percakapan mereka. Armand berkata, bahwa ia tidak punya cukup uang untuk membeli obat-obatan buat ibunya. Tentunya, hal itu membuatku sedih.

“Saat kuutarakan niat kami untuk pergi supaya tidak merepotkan mereka, perempuan itu berkata, ‘Jangan pergi. Padang sangat luas dan kau belum tahu tujuanmu. Tinggal saja beberapa hari lagi. Biarkan Armand yang mencari tahu dulu keberadaan menantumu nanti, sudah itu kau baru boleh pergi. Lagi pula, Ilyas dan Ilyasa sudah mulai kerasan di sini.’ Kalau begitu, kataku, biarkan aku bekerja membantu kalian. Lalu, dipekerjakanlah aku untuk menjaga perempuan itu dan sesekali membantu Armand mengurus kebun.”

Dia menjeda ceritanya sejenak, berpikir apakah dia salah menceritakan itu kepada anak-anak berusia 6, 7 dan 8 tahun, karena dia berkata,

“Kalian paham apa yang barusan kuceritakan, kan?”

Kami mengangguk.

“Aku ambilkan minum lagi buat kalian,” dia bangkit dan pergi ke dalam rumah dan dengan membawa air dan tambahan kue. “Kebetulan hari ini aku memasak cukup banyak. Kue-kue ini juga kubagikan pada orang yang lewat. Dari sinilah aku bisa kenal banyak orang. Makanlah.”

Lalu, dia menyambung ceritanya yang terputus.

“Tadinya kukira, aku bisa menjaga perempuan itu, tapi sungguh, dia tidak pernah merepotkan. Dia melakukan apa-apa sendiri, dan untuk pekerjaan yang tidak bisa dilakukannya sendiri, Armand selalu ada di sisinya. Kadang, aku berpikir kalau kami sedang disandera oleh kebaikan mereka. Setiap pagi Armand mengajarkanku merawat tanaman. Di sini, semua lahan yang dimanfaatkan. Armand membagi lahan di rumahnya jadi beberapa bagian; lahan untuk pohon buah, sayuran, pohon obat, pohon bumbu dapur, dan bunga-bunga di bagian depan. Bagian belakangnya lebih luas; sekarang aku sudah punya dua pegawai untuk mengurusnya. Aku memang tidak punya uang untuk menggaji mereka, tapi mereka setuju dibayar dengan berbagi hasil panen.”

Ceritanya terhenti lagi karena kedatangan Ilyas dan Ilyasa yang memamerkan gambar mereka kepada kami. Masing-masing dari kami memuji hasil gambarnya dan kedua bocah itu pun terlihat senang. Kemudian wanita itu menyuruhnya kembali lagi ke dalam, dibilangnya dia mau mengobrol sebentar dengan kami, dan mereka pun menurutinya.

“Entah karena alasan apa ibu mereka meninggalkan mereka sejak mereka masih bayi. Ayah mereka—putraku—mati karena kecelakaan motor. Aku yang merawat mereka sejak saat itu. Enam bulan lalu aku memutuskan mencari ibu mereka ke Padang, berharap, dengan menemuinya, pikirannya akan berubah setelah melihat kedua anaknya tumbuh sehat dan cerdas. Tapi aku kesulitan mencarinya tanpa alamat lengkap. Selain itu, aku juga tidak punya banyak uang. Aku memutuskan tidak mau merepotkan diri lagi. Ilyas dan Ilyasa sudah betah di sini, terlebih sewaktu masih ada Armand. Mereka mungkin yang akan mencari ibu mereka setelah dewasa nanti, tapi kuharap dia sudah mati saat itu.”

Kami terkejut mendengar dia menyumpah, namun dia langsung menyadarinya dan berkata,

“Maafkan aku. Tidak baik menyumpahi orang lain. Maafkan aku.”

Kami terdiam, menunggunya melanjutkan ceritanya, atau menunggunya mengusir kami.

“Sebulan lalu ibunya Armand meninggal. Hanya beberapa orang saja yang membantu Armand memakamkannya. Aku heran, untuk orang yang sebaik dia kenapa tidak banyak orang yang menghadiri pemakamannya. Aku masih ingat pesannya kepada Armand sehari atau dua hari sebelum dia meninggal, yang tidak sengaja kudengar saat menyiram pohon di suatu pagi, yang akan kusampaikan kepada kedua cucuku kelak. Dia bilang, bahwa semua orang mampu berbuat baik, tapi hanya sedikit yang sanggup melakukannya. Ini hanya masalah kemauan. Kupikir, kalian juga harus ingat pesan itu baik-baik.

“Armand terlihat murung sejak ditinggal ibunya. Ia tidak pergi berdagang dan hampir-hampir tidak mengurus kebunnya. Setelah selama sepekan ia mengurung diri, ia memutuskan pergi ke Padang untuk mencari ibunya Ilyas dan Ilyasa. Aku tidak kuasa mencegahnya karena ia bersikeras. Aku hanya memberinya sedikit petunjuk; nama perempuan itu dan tempatnya bekerja; di toko roti atau pabriknya, atau mungkin keduanya.

Ia pergi pagi-pagi benar sehingga tidak sempat berpamitan dengan Ilyas dan Ilyasa. Kedua cucuku terus-terusan menanyakan Armand, sementara aku harus pintar memberikan jawabannya. Rabu lalu aku dapat surat dari Armand, katanya, ia sudah sampai di Padang dan menemukan toko roti tempat perempuan itu bekerja, tapi perempuan itu sudah lama pindah ke Medan. Armand pun pergi ke Medan. Selama dua atau tiga hari ia berkeliling kota Medan untuk mencarinya, akan tetapi tidak juga ditemukannya. Namun, alih-alih kembali ke sini, ia memutuskan pergi ke Jakarta. Ya, suratnya dikirim dari Jakarta, dan ia memberikan rumahnya buat kami. Demi Allah, ia memberikan rumahnya buat kami. Aku bisa tunjukkan kepada kalian suratnya. Semoga ia selalu dalam lindungan Allah.”

Demikian wanita itu mengakhiri ceritanya mengingat hari sudah terlanjur siang dan dia khawatir orang tua kami akan mencari-cari kami.

Sebelum kami pulang, dia menunjukkan surat dari Armand, dan memang betul, seperti yang kami baca, bahwa Armand memberikan rumahnya untuk wanita itu. Kemudian, wanita itu membekali kami masing-masing sebungkus belimbing dan kue-kue, dan berpesan supaya kami sering-sering main ke rumahnya.

Kami tidak membicarakan wanita tua itu atau Armand atau apa pun di sepanjang jalan; kami cukup lelah meskipun pekerjaan kami hanya duduk-duduk saja dan makan kue sepanjang pagi. Kami baru dua atau tiga kali pergi ke daerah itu, yang jaraknya setengah jam bersepeda. Rumah Armand—atau wanita tua itu—berada di luar desa, tapi tidak lebih dekat ke desa tetangga. Meski terletak di tepi padang, tempatnya tidak bisa dibilang sepi karena setiap pagi orang-orang dari desa tetangga melewati jalur itu untuk pergi ke pasar atau sekolah.

Perjalanan pulang kami lebih melelahkan karena matahari bersinar terik, terlebih masing-masing terbebani membonceng satu orang dan melewati jalanan berbatu. Di tengah jalan, kami beristirahat, makan belimbing, dan setelah itu bergantian mengayuh sepeda.

Kami akui cerita wanita itu tentang Armand begitu memikat seperti halnya dongeng, akan tetapi kami hanya anak-anak yang berusia 6, 7 dan 8 tahun, yang masih senang bermain-main, yang ada kalanya rajin, dan ada kalanya nakal. Sekali sebulan kami berkunjung ke rumah wanita itu, untuk memetik buah dan mendengarkannya bercerita—wanita itu punya bahan cerita yang menarik untuk didengar.

Namun, pada kunjungan kami yang kelima, wanita itu ternyata sudah pergi. Seorang laki-laki yang pernah dikenalkan kepada kami sebagai pegawainya yang selanjutnya menempati rumahnya. Katanya, wanita itu pulang ke Bukittinggi. Menantunya, ibunya Ilyas dan Ilyasa, sudah kembali. Tidak dijelaskannya alasan perempuan itu kembali.

Itulah hari terakhir kami pergi ke rumah Armand—atau pegawai laki-laki itu. Seiring berjalannya waktu, nama Armand pun terlupakan begitu saja. Ia hanya jadi pengingat masa lalu beserta dongeng yang pernah diceritakan dan trik sulap yang pernah diajarkan kepada kami. Kami sibuk dengan sekolah, bermain, dan membantu orang tua.

Bertahun-tahun kemudian, ketika usia kami menginjak 17 dan 18, kami sudah pergi merantau. Kami pergi bertahap. Yang pertama pergi sudah bekerja di sebuah pabrik Cikarang, lalu menyusul dua bulan kemudian teman kami yang berdagang pakaian di Palmerah. Setahun setelahnya, seorang dari kami melanjutkan kuliah di IKIP Jakarta di Rawamangun. Hanya satu dari kami yang tidak merantau, ia meneruskan usaha kebun milik orang tuanya.

Ketika kami bertemu lagi di kampung halaman kami beberapa tahun kemudian, kami sudah berusia 23, 24 dan 25. Masing-masing datang dengan perubahan fisik, finansial, dan cerita-cerita yang mengesankan. Yang bekerja di Cikarang sudah jadi kepala bagian dan pernah menginjakkan kakinya di Jepang. Yang berdagang sudah punya toko sendiri di Palmerah. Yang meneruskan usaha kebun orang tuanya sudah beralih jadi peternak kambing. Yang paling muda di antara kami baru saja mendapatkan pekerjaan pertamanya. Namun, di antara kami, yang paling menarik ceritanya adalah teman kami yang sarjana, yang kembali mengingatkan kami akan nama Armand.

Waktu pertama kali tiba di Jakarta, ia benar-benar sendiri, tidak ada saudara atau kerabat yang bisa ditumpangi rumahnya. Ia tahu kami tinggal di Palmerah dan Cikarang, tapi Jakarta atau Cikarang terlalu luas untuk dijelajahi, lagi pula, sudah jadi kebiasaannya yang tidak mau merepotkan orang lain, sehingga ia mesti pandai-pandai mengatur uangnya yang tidak banyak.

Untungnya, ia orangnya luwes sehingga mudah mendapatkan teman. Dengan bantuan sesama mahasiswa baru, ia tidak kesulitan mendapatkan tempat kos. Ia juga tidak kesulitan menyesuaikan diri dengan lingkungannya, dalam waktu singkat saja ia sudah tahu banyak tempat di Jakarta dan terbiasa mengucapkan kata gue dan loe.

Meski begitu, tentunya ada masa-masa sulit yang harus dilewatinya, terutama ketika ia sama sekali tidak memegang uang. Pernah suatu kali, karena lapar ia memberanikan diri menghampiri tukang mie ayam dan berkata bahwa ia rela mencuci piring demi semangkuk mie ayam. Tukang mie ayam yang baik hati itu berkata,

“Aku akan memberikanmu semangkuk mie ayam gratis dan kau tidak perlu cuci piring.”

Dari situlah ia kemudian kembali teringat Armand, dan menyebut tukang mie ayam itu sebagai Armand.

“Itulah Armand pertamaku,” katanya kepada kami.

Tapi bukan karena itu sebutan tukang cuci piring melekat padanya di antara teman-teman kampusnya. Ketika teman-temannya mengajaknya pergi ke pesta perkawinan untuk mendapatkan makan gratis, alih-alih menyelonong masuk dan menyantap hidangan, ia malah menemui salah seorang panitia pesta dan mengatakan dengan jujur bahwa ia bukan tamu undangan dan berharap bisa makan gratis dengan imbal jasa mencuci piring. Teman-temannya tentu saja kaget bukan main, tapi langsung paham begitu dibilangnya bahwa mengambil makanan tanpa seizin empunya itu haram. Akhirnya, mereka berlima diizinkan makan dan mencuci piring para tamu. Panitia itulah yang jadi Armand ketiga atau keempatnya.

Ceritanya tentang kejujuran betul-betul menampar kami; ada dari kami yang tersindir karena pernah menerima uang dari pemasok; ada juga yang merasa bersalah karena menjual baju-baju yang dibilangnya barang impor, padahal diambilnya dari Tanah Abang. Ia tersenyum ketika kami menyebutnya sebagai Armand kami. Rupanya, sebutan itu tidak salah ketika ia menceritakan kegiatannya mengajar anak-anak di masjid, yang disebutnya terinspirasi dari Armand.

Begitu banyak orang baik yang disebutnya Armand. Kami pikir, dengan bertemu banyak Armand hidupnya akan lebih mudah, tapi ternyata tidak. Ada begitu banyak kesulitan yang sudah dilaluinya, katanya, yang paling sulit itu mendapatkan pekerjaan.

Untuk diketahui, ia seorang sarjana Pendidikan Guru Geografi, jurusan yang tadinya tidak disangka akan diambilnya, tapi karena jurusan itu yang tersedia untuk masuk PTN jalur PMDN maka ia pun mengambilnya. Menjadi guru tentunya pekerjaan mulia, tapi ia berpikir, kalau sekedar menjadi guru, ia tidak perlu bersusah payah pergi merantau, toh pamannya di kampung jadi kepala sekolah di SMP, apalagi ia sudah jadi guru privat dan guru mengaji anak-anak di masjid selama ia jadi mahasiswa. Ia butuh pekerjaan yang bergaji besar dan bisa dibanggakan orang tuanya.

Sudah puluhan perusahaan dilamarnya dan belasan perusahaan yang didatanginya untuk wawancara kerja—mulai dari sebuah kantor kecil di Tanah Abang sampai gedung BUMN 31 lantai di Gatot Subroto. Uangnya sudah banyak habis untuk foto kopi, nge-print dan ongkos bis, padahal ia selalu lulus psikotes maupun pengetahuan umum. Ia hanya bermasalah di wawancara atau yang berkaitan dengan bahasa Inggris. Sekalipun begitu, ia tetap datang saat ada panggilan wawancara kerja. Dengan bercanda ia mengatakan, bahwa ia seorang petualang wawancara kerja.

Ia juga tidak pernah terpikir untuk balik kampung; ia terus melamar kerja, menghadiri tes dan wawancara kerja, dan begitu seterusnya. Ia selalu antusias saat wawancara kerja dan tidak menganggap dirinya belum beruntung. Ia memang tidak percaya keberuntungan, meskipun ia akhirnya dipertemukan orang baik di perusahaan yang dilamar berikutnya, yang lagi-lagi disebutnya sebagai Armand.

Orang baik itu yang dimaksud adalah sang pemilik perusahaan—yang mewawancarainya setelah ia lolos psikotes dan dua wawancara awal. Wawancaranya seharusnya berjalan lancar kalau saja tidak memakai bahasa Inggris. Meski ia tidak yakin bisa lolos, setidaknya sang pemilik perusahan masih ingat bahwa, laki-laki yang sedang diwawancarainya adalah bocah yang pernah diajarinya mengaji, dibuatnya tertawa dengan cerita-cerita lucunya, dibuat terkagum-kagum dengan trik sulapnya dan diajaknya main tebak-tebakan setiap sore di sebuah masjid di sebuah kampung di Sumatera Barat tujuh belas tahun lalu.

**

Ali
Ali

Pria tampan nan ganteng ini tinggal di Bekasi

Leave a Reply

Your email address will not be published.