Angela di Kereta

Angela di Kereta
Photo by Rich Smith on Unsplash

Hari ini, untuk pertama kalinya aku naik kereta. Bukan kereta jarak jauh, hanya kereta komuter yang akan membawaku keliling Jakarta.

Aku pergi mengikuti orang-orang: membeli tiket, menempel kartu dan berdiri berbaris di peron bersama penumpang lain.

Tepat jam 9 keretaku datang, membawa iring-iringan gerbong nan panjang. Lalu, tidak berapa lama terdengar pekik decit rem dan kereta pun berhenti. Suara mendesis terdengar dari bagian bawah kereta, seolah sedang mengembuskan nafas.

Tidak berapa lama pintu terbuka. Orang-orang dengan sabar melangkah masuk dan memilih tempat duduk. Aku duduk di pojokan dekat pintu, di sebelah wanita cantik berbaju merah.

Di hadapanku duduk seorang gadis menarik. Dia memakai celana jeans dan kaos putih longgar. Wajahnya oval, hidungnya mancung, bibirnya tipis dan mungil. Mata indahnya sedang memandang sesuatu di kejauhan. Entah apa yang ada dalam pikirannya.

Aku memberinya nama Angela karena dia cantik seperti bidadari.

Aku sering memberi nama pada orang yang menarik namun belum kukenal. Pernah suatu kali aku memberi nama Profesor X untuk pria botak berkacamata tebal di toko buku. Lalu ada Ny. Keren, panggilanku untuk seorang wanita tua nyentrik di bandara. Aku juga punya sebutan untuk wanita di sebelahku ini: Ny. Cuek.

Kereta berhenti di Stasiun Jatinegara. Untuk sementara kulupakan Angela. Tempat ini menarik perhatianku. Aku mengagumi arsitekturnya yang klasik beserta hiruk pikuknya. Di gerbang sebelah tampak asap hitam mengepul dari lokomotif besar. Suara deru mesin, membuatku ingin menjadi bagian dari mereka yang membawa tas-tas besar. Aku membayangkan duduk di samping jendela sambil memandang sawah-sawah yang menghampar, melewati jembatan besi yang tinggi dan terowongan yang panjang.

Khayalanku terhenti ketika kereta bergerak meninggalkan stasiun. Pada saat itu aku teringat Angela. Aku melihatnya dan dia melihatku. Lalu dia tersenyum dan melambaikan tangannya padaku.

Mendadak aku seperti kehabisan nafas. Kupejamkan mata selama beberapa detik. Namun begitu kubuka mata, kulihat Ny. Cuek sedang menawariku air minum. Dia tersenyum, membuat wajahnya tampak teduh. Memang, dengan begitu dia tidak lagi terlihat seperti Ny. Cuek. Tapi aku tetap memanggilnya Ny. Cuek.

Ny. Cuek seorang wanita modis. Aku menyukai wangi parfumnya dan pilihan pakaiannya yang kasual, tapi tidak tas ransel kecil bergambar Kereta Thomas miliknya, yang bagiku terlalu kekanak-kanakan.

Aduh, kenapa sih aku harus memikirkan tas itu ketika tiba-tiba saja Angela sudah berdiri tepat di hadapanku.

“Anak Anda?” tanya Angela pada si Ny. Cuek.

Ny. Cuek tersenyum. Dia berkata: “Namanya Ali. Hari ini, tepat ulang tahunnya yang keenam. Ini pertama kalinya ia naik kereta.”

Angela merendahkan tubuhnya hingga wajahnya sejajar dengan wajahku. Sambil mengusap kepalaku dengan lembut, dia berkata: “Selamat ulang tahun, Tampan.”

* *

Ali

Pria tampan nan ganteng ini tinggal di Bekasi

This Post Has One Comment

  1. Reza

    Tertipu di akhir cerita

Leave a Reply